Menit.co.id – Nama Gilberto Mora kembali menjadi sorotan dunia sepak bola setelah mencatatkan sejarah baru di panggung terbesar: Piala Dunia 2026.
Gelandang muda Meksiko tersebut resmi menjadi pemain termuda kedua yang pernah turun sebagai starter dalam laga babak gugur turnamen tersebut, saat El Tri menghadapi Ekuador pada babak 32 besar di Stadion Mexico City.
Dalam laga yang berlangsung ketat itu, Meksiko sukses mengamankan kemenangan 2-0 melalui gol Julián Quiñones dan Raúl Jiménez.
Namun, sorotan utama justru tertuju pada keberanian pelatih Javier Aguirre yang memberikan kepercayaan besar kepada pemain berusia 17 tahun itu untuk tampil sejak menit awal di lini tengah bersama Erik Lira dan Luis Romo.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Sejak awal pertandingan, Mora tampil tenang dalam mengatur tempo permainan, menunjukkan kematangan yang melampaui usianya.
Meski baru ditarik keluar pada menit ke-59 dan digantikan Brian Gutiérrez, kontribusinya sudah cukup memberi warna dalam dominasi permainan Meksiko.
Pada laga tersebut, Gilberto Mora menunjukkan kualitas teknis yang mengesankan. Berdasarkan data Fotmob, ia mencatatkan akurasi umpan hingga 88 persen dengan 22 umpan sukses dari 25 percobaan.
Tidak hanya itu, kontribusi defensifnya juga signifikan dengan satu tekel sukses dan satu intersep penting yang memutus alur serangan Ekuador.
Dari sisi duel, pemain kelahiran Tuxtla Gutiérrez, 14 Oktober 2008 ini juga tampil kompetitif dengan tingkat kemenangan duel mencapai 62 persen.
Statistik tersebut memperkuat gambaran bahwa Mora bukan sekadar talenta muda yang mengandalkan potensi, melainkan sudah mampu bersaing di level tertinggi sepak bola internasional.
Pencapaian ini membuat Gilberto Mora mencatatkan namanya dalam sejarah turnamen.
Ia tercatat bermain di usia 17 tahun 259 hari, hanya terpaut 20 hari lebih tua dibanding legenda Brasil, Pelé, yang memegang rekor sebagai starter termuda dalam laga babak gugur Piala Dunia sejak edisi 1958.
“Pada usia 17 tahun dan 259 hari, Gilberto Mora adalah pemain termuda kedua yang memulai pertandingan di babak gugur Piala Dunia, hanya di belakang Pelé pada tahun 1958 (17 tahun dan 239 hari),” demikian catatan data Opta yang mengonfirmasi pencapaian tersebut.
Sebelum mencetak rekor di babak gugur, Mora juga telah lebih dulu mengukir sejarah lain. Ia menjadi pemain termuda Meksiko yang tampil di Piala Dunia putra saat menghadapi Afrika Selatan di laga pembuka, ketika usianya masih 17 tahun 240 hari.
Catatan tersebut sekaligus mematahkan rekor berusia 96 tahun milik Manuel “Chaquetas” Rosas, yang sebelumnya menjadi pemain termuda Meksiko di turnamen dunia.
Perjalanan Gilberto Mora menuju panggung utama ini tidak terjadi secara instan.
Pelatih Javier Aguirre mengaku keputusannya menurunkan sang gelandang sebagai starter didasarkan pada performa impresifnya saat menjadi pemain pengganti selama 72 menit ketika menghadapi Republik Ceko dalam laga sebelumnya. Dari situ, kepercayaan terhadap sang pemain muda semakin menguat.
Meski baru mencatatkan lima penampilan bersama tim nasional senior, dampak yang diberikan Mora dinilai sudah sangat signifikan.
Ia bukan hanya pelengkap skuad, tetapi mulai menjadi bagian penting dalam struktur permainan Meksiko yang tengah membangun regenerasi.
Dalam laga kontra Ekuador, bahkan pada 16 menit awal pertandingan, Gilberto Mora hampir mencetak gol spektakuler.
Ia melepaskan tembakan jarak jauh yang memaksa kiper Ekuador bekerja keras, disusul percobaan tendangan melengkung yang hanya melebar tipis di sisi tiang gawang.
Momen tersebut sempat membuat publik Stadion Mexico City bergemuruh, seolah menandakan lahirnya bintang baru.
Dengan pencapaian ini, Gilberto Mora tidak hanya mencatat sejarah pribadi, tetapi juga mempertegas posisi Meksiko sebagai salah satu negara yang konsisten melahirkan talenta muda berbakat di kancah dunia. Jika perkembangan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin ia akan menjadi salah satu pilar utama El Tri dalam satu dekade mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
