Menit.co.id – Hendra Setiawan memasuki fase baru dalam perjalanan kariernya di dunia bulu tangkis Indonesia dengan menjalani tugas sebagai pelatih tim Piala Thomas 2026.
Turnamen beregu putra paling prestisius tersebut akan berlangsung di Horsens, Denmark, pada 24 April hingga 3 Mei 2026, dan menjadi panggung perdana dirinya dalam kapasitas sebagai staf pelatih di level nasional.
Perubahan peran ini menjadi sorotan tersendiri karena ia sebelumnya dikenal sebagai salah satu pemain ganda putra paling berprestasi yang dimiliki Indonesia.
Kini, Hendra Setiawan tidak lagi turun sebagai atlet, melainkan berada di sisi lapangan untuk mengambil keputusan teknis yang menentukan jalannya pertandingan.
Menurut keterangan resmi PP PBSI, Jumat, ia mengakui bahwa transisi dari pemain menjadi pelatih menghadirkan tantangan yang jauh berbeda.
Ia menilai tanggung jawab seorang pelatih lebih kompleks dibandingkan saat masih aktif sebagai atlet.
“Rasanya mungkin lebih susah jadi pelatih. Kalau dulu sebagai pemain tinggal siap main, sekarang harus menentukan siapa yang turun, melihat kondisi pemain, dan juga lawannya,” ujarnya.
Di usia 41 tahun, ia dipercaya mengisi posisi kepelatihan dalam skuad Indonesia pada ajang Piala Thomas 2026.
Salah satu faktor yang membuatnya terlibat dalam staf pelatih adalah keterkaitannya dengan pasangan ganda putra Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani yang turut masuk dalam tim nasional.
Meski demikian, ia mengaku tidak pernah membayangkan akan berada dalam struktur kepelatihan tim nasional.
Kesempatan tersebut justru datang sebagai bagian dari tanggung jawab baru yang ia terima sekaligus menjadi ruang pembelajaran dalam karier setelah pensiun sebagai pemain.
“Enggak kepikiran sebelumnya, tapi ini panggilan jadi saya harus siap. Ini juga buat pengalaman saya sebagai pelatih,” katanya.
Dalam peran barunya, ia berupaya membagikan pengalaman panjangnya sebagai atlet elite kepada para pemain yang kini dibimbingnya.
Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara pemain senior dan junior dalam satu tim, terutama dalam menghadapi tekanan kompetisi beregu.
Ia juga menyoroti aspek mental bertanding yang menurutnya sangat krusial di ajang seperti Piala Thomas. Menurutnya, semangat kolektif menjadi faktor penting karena hasil satu pertandingan dapat memengaruhi kondisi tim secara keseluruhan.
“Daya juang harus lebih karena ini pertandingan tim. Hasil satu pemain bisa berpengaruh ke yang lain. Tapi yang terpenting tetap fokus masing-masing,” ungkapnya.
Dari catatan sejarahnya, ia telah sembilan kali memperkuat Indonesia di ajang Piala Thomas. Debutnya terjadi pada 2006, ketika ia langsung membantu tim meraih medali perunggu.
Sejak saat itu, ia menjadi bagian tetap dari skuad Indonesia dalam berbagai edisi turnamen tersebut tanpa pernah absen.
Puncak perjalanan panjangnya sebagai pemain terjadi pada 2020, saat Indonesia berhasil menjuarai Piala Thomas untuk ke-14 kalinya dalam sejarah.
Pada edisi 2026, Indonesia tergabung di Grup D bersama Prancis, Thailand, dan Aljazair. Komposisi tim Indonesia kali ini dihuni oleh nama-nama utama seperti Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Fajar Alfian, Muhammad Shohibul Fikri, Sabar Karyaman Gutama, dan Moh Reza Pahlevi Isfahani.
Selain itu, skuad juga diperkuat pemain muda seperti Alwi Farhan, Moh Zaki Ubaidillah, Raymond Indra, dan Nikolaus Joaquin.
Kehadiran kombinasi pemain senior dan muda ini diharapkan dapat memberikan keseimbangan kekuatan dalam menghadapi persaingan grup yang cukup beragam.
Dalam konteks ini, Hendra Setiawan diharapkan mampu menjadi jembatan antara pengalaman masa lalu dan kebutuhan taktis tim masa kini.
Dengan pengalaman panjang di level internasional, langkah Hendra Setiawan sebagai pelatih pada Piala Thomas 2026 menjadi babak baru yang memperlihatkan transformasi seorang legenda bulu tangkis Indonesia dari pemain ke peran strategis di balik layar tim nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
