Janet Fordham Tewas dalam Kecelakaan di Ghana Usai Terjerat Penipuan Asmara Senilai Rp20 Miliar

Janet Fordham
Janet Fordham. Foto: Sky News

Menit.co.id – Seorang perempuan lanjut usia asal Inggris berusia 69 tahun, Janet Fordham, dilaporkan meninggal dunia dalam kecelakaan mobil tragis di Ghana setelah terjerat rangkaian penipuan asmara yang berlangsung selama bertahun-tahun dan merugikannya hingga sekitar £1 juta atau lebih dari Rp20 miliar.

Peristiwa ini mengakhiri kisah panjang tentang manipulasi emosional, kerugian finansial besar, serta upaya keluarga dan aparat kepolisian yang gagal menghentikan keputusan korban.

Kabar tersebut diungkap berdasarkan fakta persidangan yang dikutip dari Sky News, yang menyebutkan bahwa korban merupakan mantan pengurus rumah tangga yang telah menjadi target sindikat penipuan selama kurang lebih lima tahun berturut-turut.

Awal mula penipuan: cinta palsu dari dunia maya

Kisah tragis Janet Fordham berawal pada tahun 2017 ketika ia mulai aktif di situs kencan internasional. Dari platform tersebut, ia berkenalan dengan seorang pria yang mengaku sebagai sersan mayor tentara Inggris yang sedang bertugas di Suriah.

Pria tersebut kemudian memanfaatkan identitas palsunya untuk meminta bantuan finansial, termasuk dalih pengiriman emas dari zona konflik.

Tanpa disadari, hubungan virtual tersebut menjadi pintu masuk bagi jaringan penipuan asmara yang lebih luas. Dalam waktu singkat, korban mulai mengirimkan uang dalam jumlah besar kepada pelaku yang mengaku berada dalam situasi darurat militer.

Kerugian besar dan tekanan keluarga

Seiring berjalannya waktu, Janet Fordham tidak hanya menghabiskan seluruh tabungan hidupnya, tetapi juga kehilangan tempat tinggal akibat tekanan finansial yang terus meningkat. Total kerugian yang dialaminya diperkirakan mencapai sekitar £1 juta.

Menikah dalam bayangan dan keyakinan palsu, ia bahkan sampai meminjam uang dari kerabat dekat. Menantunya, Melanie Fordham, mengungkapkan bahwa keluarga telah sejak awal mencurigai adanya penipuan dan berusaha memberikan peringatan keras.

“Saya katakan padanya dengan tegas untuk tidak mengirimkan uang kepadanya. Janet telah mengirimkan uang kepadanya, tetapi kami tidak mengetahui hal ini sampai bertahun-tahun kemudian. Saya yakin dia memberinya sekitar £150.000,” ujar Melanie.

Dalam laporan keluarga, korban juga tercatat meminjam hingga sekitar £140.000 dari lingkungan terdekat demi memenuhi permintaan para penipu.

Jaringan penipuan berlapis

Setelah tertipu oleh sosok yang mengaku sebagai tentara, Janet Fordham kembali menjadi sasaran kelompok penipu lain yang menyamar sebagai diplomat. Situasi semakin memburuk ketika lembaga perbankan serta kantor pos setempat mulai mendeteksi aktivitas transaksi mencurigakan dan memblokir akses keuangan korban.

Namun, upaya pemblokiran tersebut tidak menghentikan langkah korban. Ia justru beralih menggunakan ATM Bitcoin untuk terus mengirim uang ke luar negeri, sehingga transaksi menjadi lebih sulit dilacak oleh pihak berwenang.

Dalam fase berikutnya, seorang pria bernama Kofi muncul dan mengaku sebagai dokter yang berjanji membantu memulihkan kerugian finansial korban. Hubungan ini kembali memperkuat keyakinan korban bahwa ia akan mendapatkan kembali seluruh uangnya.

Melanie Fordham menilai kondisi tersebut sebagai bentuk keterikatan psikologis yang sangat dalam.

“Apakah dia sudah terjerumus terlalu dalam, sehingga dia tidak bisa menerima bahwa semuanya telah hilang, dia harus terus menimbun uang dengan harapan mendapatkan sesuatu kembali,” ungkapnya.

Upaya polisi yang tidak membuahkan hasil

Kepolisian Inggris sebenarnya telah beberapa kali mencoba melakukan intervensi antara tahun 2017 hingga 2022. Detektif Sersan Ben Smith menyatakan bahwa pihaknya sudah berulang kali mencoba meyakinkan korban untuk menghentikan kontak dengan para pelaku.

Menurutnya, aparat telah memperingatkan agar korban tidak lagi mengirimkan uang kepada pihak yang dicurigai sebagai penipu. Namun, seluruh peringatan tersebut diabaikan oleh korban yang tetap melanjutkan komunikasi secara sukarela.

Keputusan berangkat ke Ghana

Pada Oktober 2022, Janet Fordham membuat keputusan besar yang mengejutkan keluarga, yakni terbang ke Ghana untuk bertemu Kofi yang disebut sebagai tunangannya. Keluarga mengaku telah melakukan berbagai upaya medis maupun hukum untuk mencegah keberangkatan tersebut.

“Sebagai sebuah keluarga, kami mencoba segalanya untuk menghentikannya, tetapi dia bersikeras,” kenang Melanie Fordham dengan nada penyesalan.

Perjalanan tersebut menjadi titik balik paling fatal dalam hidupnya. Kofi mengklaim bahwa mereka sedang bersiap menuju pernikahan resmi di Ghana, dan mengajak korban melakukan perjalanan ke wilayah Oti untuk mencari restu keluarga.

Kecelakaan maut di Ghana

Perjalanan yang seharusnya menjadi langkah menuju pernikahan justru berakhir tragis. Mobil yang ditumpangi Janet Fordham dan Kofi dilaporkan keluar dari jalur dan mengalami kecelakaan hebat.

Benturan keras tersebut merenggut nyawa korban di lokasi kejadian. Insiden ini terjadi pada 14 Februari 2023, bertepatan dengan hari kasih sayang, yang ironisnya menjadi akhir dari kisah asmara palsu yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun.

Kofi menyatakan bahwa perjalanan tersebut memang bertujuan untuk mempersiapkan pernikahan mereka secara resmi di Ghana.

Akhir tragis dan kesimpulan investigasi

Hasil pemeriksaan koroner menyimpulkan bahwa korban meninggal dalam kondisi bangkrut total, tanpa sisa aset atau kekayaan sedikit pun. Seluruh kekayaannya telah habis terserap oleh rangkaian penipuan yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Pihak kepolisian akhirnya menghentikan investigasi lebih lanjut karena selama hidupnya korban menolak bekerja sama untuk melaporkan para pelaku penipuan.

Kasus Janet Fordham menjadi gambaran nyata bagaimana romance fraud atau penipuan asmara dapat menghancurkan kehidupan seseorang secara menyeluruh, baik secara finansial maupun emosional. Dalam laporan tersebut, nama Janet Fordham kembali menjadi simbol dari korban manipulasi digital yang terjebak dalam hubungan palsu hingga akhir hayatnya.

Tragedi ini juga menyoroti bagaimana teknologi, termasuk mata uang kripto seperti Bitcoin, dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menghindari deteksi, sekaligus menyulitkan aparat dalam melacak aliran dana ilegal.

Dengan berakhirnya kisah ini, Janet Fordham meninggalkan pelajaran pahit tentang risiko penipuan daring yang semakin kompleks dan sulit dikenali, bahkan oleh keluarga terdekat sekalipun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Exit mobile version