Menit.co.id – Setelah lebih dari setahun bungkam, Lauren Sanchez akhirnya buka suara mengenai polemik gaya berbusananya yang mencuri perhatian saat menghadiri pelantikan Presiden Amerika Serikat Donald Januari 2025 lalu.
Dalam wawancara eksklusif bersama The New York Times yang baru saja dirilis, mantan jurnalis sekaligus pilot helikopter berusia 56 tahun ini angkat bicara soal pilihan fashionnya yang kala itu memicu perdebatan panas di media sosial.
Polemik Setelan Putih yang Jadi Sorotan
Acara inaugurasi yang semula direncanakan berlangsung di luar gedung Capitol, Washington D.C., akhirnya dipindahkan ke dalam ruangan karena alasan tertentu. Kondisi ini membuat Lauren Sanchez melepas coat mewah keluaran Schiaparelli yang telah disiapkan untuk cuaca dingin.
Yang tersisa adalah setelan serba putih karya Alexander McQueen dengan harga blazer mencapai US$2.590. Namun yang menjadi sorotan tajam adalah keputusannya mengenakan bustier putih dengan detail renda sebagai inner wear, bukan blus seperti umumnya dipakai untuk acara formal kenegaraan.
Posisinya yang berdiri tak jauh di belakang Presiden Trump membuat penampilannya terekam jelas oleh kamera media. Tak butuh waktu lama, foto-fotonya langsung viral dan memicu gelombang kritikan dari warganet.
“Calon istri Jeff Bezos berpakaian sangat tidak pantas untuk acara kenegaraan. Seseorang seharusnya memberi tahu dia bahwa memamerkan bra renda putihnya tidak dapat diterima,” tulis salah satu pengguna media sosial. Komentar lain bahkan lebih pedas: “Uang tidak bisa membeli kelas. Memalukan.”
Momen yang semakin memperkeruh situasi adalah ketika CEO Meta Mark Zuckerberg—yang berdiri di sampingnya—tertangkap kamera melihat ke arah bagian bawah blazernya. Foto tersebut langsung menyebar luas dan menjadi meme di berbagai platform digital.
Pembelaan dan Pengakuan
Menghadapi kritikan deras tersebut, Lauren Sanchez tetap membela pilihan gayanya. Ia mengklaim bahwa outfit yang dikenakan masih bisa dikategorikan sebagai pakaian konservatif, meskipun banyak pihak yang tidak sepakat.
“Saya bangga dengan diri saya sendiri,” ujarnya tegas dalam wawancara tersebut.
Namun demikian, wanita yang kala itu hadir sebagai pendamping pendiri Amazon Jeff Bezos—yang statusnya masih bertunangan—ini juga menunjukkan itikad baik dengan sedikit mengakui kesalahannya.
“Saya paham. Tidak boleh ada renda untuk acara Gedung Putih,” imbuhnya dengan nada lebih lunak.
Terkait MET Gala 2026
Dalam sesi wawancara yang sama, Lauren juga membahas keterlibatannya dalam ajang fashion paling bergengsi MET Gala 2026 mendatang. Amazon, perusahaan teknologi raksasa milik kekasihnya, ditunjuk sebagai sponsor utama acara tahunan tersebut.
Keputusan ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra. Sebagian pihak menyambut positif, namun tidak sedikit yang skeptis dan menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “pembajakan” atas institusi fashion yang telah berdiri sejak 1948 tersebut.
Menariknya, Lauren menceritakan bahwa inisiatif tersebut justru datang dari Anna Wintour, figur legendaris industri mode yang kini menjabat sebagai Global Chief Content Officer Conde Nast.
“Aku seperti, ‘Anna siapa ya?’,” canda Lauren menirukan reaknya pertama kali dihubungi. Namun ia kemudian menegaskan bahwa penunjukan Amazon sebagai sponsor utama merupakan sebuah penghormatan besar bagi perusahaan dan dirinya secara personal.
Klarifikasi ini seolah menjadi penutup babak panjang kontroversi fashion yang hampir dua tahun lalu menghiasi headline berbagai media internasional. Bagi Lauren, tampaknya percaya diri dan tetap autentik adalah kunci utama menghadapi segala hujatan yang datang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













