Menit.co.id – Indeks harga saham gabungan Korea Selatan, KOSPI, kembali menunjukkan penguatan tajam pada penutupan perdagangan Kamis, 16 April 2026.
Indeks KOSPI tercatat naik 2,21 persen dan berakhir di level 6.226, memperpanjang reli selama tiga sesi berturut-turut setelah sebelumnya pasar sempat terguncang oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran pada awal pekan.
Kenaikan pada KOSPI kali ini tidak terlepas dari membaiknya sentimen global menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu antara Washington dan Teheran. Kesepakatan ini meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia dan stabilitas jalur perdagangan strategis.
Berdasarkan data perdagangan bursa, penguatan pasar terlihat cukup luas. Tercatat sebanyak 654 saham mengalami kenaikan, sementara 206 saham lainnya justru melemah. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya minat risiko (risk appetite) investor global yang kembali masuk ke pasar ekuitas Korea Selatan setelah periode volatilitas.
Situasi ini sangat kontras dibandingkan awal pekan. Pada Senin, 13 April 2026, KOSPI sempat mengalami koreksi sebesar 1,06 persen dan turun ke posisi 5.796,61. Tekanan saat itu dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi blokade di Selat Hormuz yang dapat mengganggu distribusi energi global, terutama minyak mentah.
Pada periode pelemahan tersebut, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih dalam jumlah besar, mencapai 630,8 miliar won atau sekitar 423,41 juta dolar AS. Arus keluar modal ini terjadi setelah kegagalan perundingan akhir pekan sebelumnya, yang memicu kekhawatiran disrupsi rantai pasok internasional dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Analis Mirae Asset Securities, Seo Sang-young, menilai bahwa tekanan pasar pada awal pekan sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik yang sensitif terhadap jalur energi dunia. Ia menekankan bahwa potensi blokade Selat Hormuz dapat meningkatkan ketidakpastian dan memperbesar risiko volatilitas serta gangguan distribusi global, yang pada akhirnya langsung tercermin pada pergerakan indeks KOSPI.
Namun, memasuki pertengahan pekan hingga Kamis, arah pasar berbalik signifikan. Penguatan KOSPI terutama ditopang oleh sektor teknologi dan otomotif yang menjadi motor utama reli. Saham Samsung Electronics tercatat melonjak 2,84 persen, sementara SK Hynix ikut menguat 1,32 persen setelah sebelumnya mengalami tekanan pada sesi perdagangan awal pekan.
Di sektor otomotif, kinerja saham juga menunjukkan penguatan solid. Hyundai Motor naik 4,92 persen, diikuti Kia Corporation yang bertambah 3,89 persen. Sementara itu, Doosan Energy mencatat kenaikan paling tajam di antara saham-saham besar dengan lonjakan mencapai 6,05 persen, memperkuat sentimen positif di pasar KOSPI secara keseluruhan.
Perbaikan sentimen juga tercermin di pasar mata uang. Won Korea Selatan tercatat menguat terhadap dolar Amerika Serikat seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Penurunan harga minyak dunia turut memberikan ruang lega bagi ekonomi Korea Selatan yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor energi fosil untuk kebutuhan industri domestik.
Jika dibandingkan dengan kondisi awal pekan, pada perdagangan 13 April, nilai tukar won sempat melemah 0,42 persen hingga berada di level 1.489,8 per dolar AS. Tekanan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran geopolitik yang juga menekan kinerja KOSPI.
Tidak hanya itu, pasar obligasi juga sempat menunjukkan pergerakan signifikan. Imbal hasil obligasi pemerintah Korea Selatan tenor 10 tahun naik sebesar 5,4 basis poin ke level 3,741 persen pada periode tekanan awal pekan. Namun, seiring meredanya risiko geopolitik dan penguatan pasar saham, imbal hasil tersebut mulai stabil mengikuti arah pemulihan di pasar ekuitas dan membaiknya ekspektasi ekonomi.
Dengan kombinasi faktor geopolitik yang mulai mereda, aliran modal asing yang kembali masuk, serta penguatan sektor unggulan, KOSPI berhasil mempertahankan tren positifnya. Reli tiga hari berturut-turut ini sekaligus menandai kembalinya optimisme investor terhadap prospek pasar Korea Selatan di tengah dinamika global yang masih fluktuatif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
