Menit.co.id – Saham-saham bank berkapitalisasi besar atau yang dikenal sebagai saham big banks di Indonesia kembali menunjukkan dinamika yang bervariasi pada pekan ini.
Pada perdagangan 7 April 2026, empat bank utama mencatatkan penguatan setelah sebelumnya mengalami tekanan harga selama beberapa minggu terakhir.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi sorotan utama dengan kenaikan 6,27% menjadi Rp 3.730 per saham pada siang hari, bahkan sempat menyentuh level tertinggi pekan ini di Rp 3.740.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga mencatatkan penguatan signifikan sebesar 4,62% ke Rp 6.800 per saham, titik tertinggi dalam sepekan terakhir.
Bagi BBCA, kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak lima tahun terakhir, setelah sebelumnya sempat berada pada level terendah.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengalami kenaikan 3,72% menjadi Rp 3.350, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 3,33% ke Rp 4.660.
Namun, pada perdagangan 6 April 2026, keempat saham tersebut ditutup di zona merah, dengan BBNI memimpin penurunan sebesar 1,62%.
Analis dari Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, mengingatkan investor agar tetap berhati-hati.
Menurut Adrian, pergerakan saham big banks pekan ini dipengaruhi berbagai sentimen, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah, isu terkait MSCI dan lembaga pemeringkat, serta tantangan makroekonomi global.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi investor asing adalah kelemahan nilai tukar rupiah. Adrian menekankan bahwa kondisi ini menimbulkan kehati-hatian dalam akumulasi saham di Indonesia.
Proyeksi Adrian menunjukkan bahwa harga saham big banks belum akan mengalami lonjakan signifikan dalam waktu dekat.
“Pergerakan saham big banks di pekan ini masih berada dalam tekanan,” ujar Adrian pada 7 April 2026.
Jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut, Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan menaikkan BI-Rate untuk menjaga stabilitas inflasi.
Kenaikan suku bunga berpotensi memperlambat penyaluran kredit perbankan dan meningkatkan rasio kredit bermasalah (NPL).
Adrian menambahkan bahwa pelemahan rupiah berdampak signifikan terhadap fundamental bank, yang pada akhirnya memengaruhi harga saham.
Selain itu, investor asing kini semakin memperhitungkan risiko nilai tukar dalam keputusan investasi.
Dengan nilai tukar rupiah menembus Rp 17.000 per dollar AS, potensi aksi net sell asing menjadi lebih tinggi, yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap saham big banks.
Meski demikian, prospek jangka menengah untuk BBNI tetap menjanjikan. Pertumbuhan kredit, khususnya di segmen korporasi dan menengah, menjadi penopang utama kinerja bank ini.
Valuasi saham BBNI yang relatif murah, dengan Price to Book Value (PBV) di bawah 1 kali dan Price to Earning Ratio (PER) sekitar 6–7 kali, menjadikan saham ini menarik bagi investor yang mencari peluang jangka menengah.
Dividen BBNI tahun 2026 juga menjadi faktor menarik. Total dividen tunai mencapai Rp 13,03 triliun atau Rp 349,41 per saham, yang dibayarkan pada 7 April 2026.
Meskipun saham BBNI sempat tertekan sekitar 11,63% pada Maret 2026, yield dividen tetap tinggi, mencapai 7,9% hingga 9,57% berdasarkan harga terbaru, menurut Kael News.
Namun, BBNI menghadapi tantangan di sisi margin bunga bersih (NIM), yang diproyeksikan menyempit sekitar 23 basis poin pada 2026 akibat melemahnya yield aset dan potensi kenaikan biaya kredit.
Akibatnya, beberapa analis telah merevisi estimasi laba per saham (EPS) BBNI untuk 2026–2027.
CGS International, dikutip dari Kabar Bursa, menurunkan target harga saham BBNI menjadi Rp 5.200 dari sebelumnya Rp 5.300.
Meski begitu, rekomendasi tetap dipertahankan pada level ‘add’, menandakan bahwa BBNI masih memiliki daya tarik valuasi untuk jangka menengah, terutama bagi investor yang memprioritaskan fundamental dan dividen.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat tekanan jangka pendek akibat faktor global dan nilai tukar, saham big banks di Indonesia tetap menarik bagi investor jangka menengah.
Strategi selektif dan perhatian pada risiko nilai tukar rupiah menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi di sektor perbankan besar ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
