Selat Hormuz Iran Dibuka, Harga Minyak Brent Turun ke US$88

Selat Hormuz Iran Dibuka

Menit.co.id – Iran mengumumkan bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz kini kembali dibuka sepenuhnya untuk aktivitas kapal komersial.

Kebijakan ini dipandang sebagai langkah penting yang dapat meredakan ketegangan panjang antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus memberi dampak langsung terhadap stabilitas harga energi dunia.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui platform X. Ia menegaskan bahwa pembukaan ini dilakukan sejalan dengan kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.

Menurutnya, seluruh kapal dagang kini diizinkan melintasi kawasan Selat Hormuz selama periode gencatan senjata masih berlaku, dengan tetap mengikuti rute pelayaran yang telah ditentukan oleh otoritas Iran.

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa periode gencatan senjata,” ujar Araghchi.

Ia menambahkan bahwa kapal-kapal tetap harus mematuhi jalur resmi yang telah diumumkan sebelumnya.

Langkah ini segera mendapat perhatian internasional, terutama dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump merespons perkembangan tersebut melalui media sosial dengan nada positif.

Ia menyebut bahwa Selat Hormuz kini “sepenuhnya terbuka dan siap untuk lalu lintas penuh”, sebuah pernyataan yang mencerminkan harapan meredanya konflik di kawasan Timur Tengah.

Trump juga sebelumnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel.

Kesepakatan tersebut disebut sebagai upaya untuk menurunkan eskalasi konflik yang selama ini turut melibatkan Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Ketegangan yang berlangsung di kawasan itu sebelumnya telah memberikan tekanan besar terhadap pasar energi global.

Gangguan pada jalur strategis Selat Hormuz, yang merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia, sempat memicu lonjakan harga minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir.

Namun setelah pengumuman pembukaan kembali jalur tersebut, pasar energi langsung bereaksi. Harga minyak mentah Brent dilaporkan turun lebih dari 11 persen hingga berada di kisaran US$88 per barel pada pukul 14.10 waktu London.

Penurunan ini memangkas kenaikan harga yang sebelumnya mencapai sekitar 21 persen sejak konflik Iran memanas pada akhir Februari.

Perubahan drastis ini juga menjadi perhatian politik di Amerika Serikat. Isu kenaikan harga bahan bakar yang sempat terjadi akibat ketegangan di Selat Hormuz dinilai menjadi tekanan tersendiri bagi pemerintahan Trump, mengingat dampaknya terhadap ekonomi domestik dan sentimen publik.

Tidak hanya AS, sejumlah negara sekutu di Asia dan Eropa juga dikabarkan menyuarakan kekhawatiran atas lonjakan biaya energi yang terjadi akibat ketidakstabilan di kawasan tersebut.

Di sisi lain, konflik yang melibatkan Israel dan Hizbullah di Lebanon masih menjadi faktor sensitif dalam dinamika kawasan.

Iran disebut mendorong agar gencatan senjata di Lebanon terus dipertahankan sebagai bagian dari upaya menuju kesepakatan damai yang lebih luas dengan Amerika Serikat.

Trump sendiri menyatakan bahwa peluang untuk mengakhiri konflik dengan Iran kini dinilai semakin terbuka. Sepanjang pekan ini, kedua pihak dilaporkan melakukan pembicaraan tidak langsung melalui Pakistan di tengah masa gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada 21 April.

Ketegangan bersenjata yang melibatkan tiga pihak tersebut telah berlangsung sejak 28 Februari, dengan tuduhan yang saling dilontarkan terkait program nuklir dan rudal Iran.

Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menilai program tersebut sebagai ancaman yang harus dihentikan, sementara Iran bersikeras mempertahankan hak pertahanannya.

Israel juga disebut telah menyatakan akan mengikuti keputusan Amerika Serikat terkait kemungkinan perpanjangan gencatan senjata maupun arah kesepakatan damai berikutnya.

Dengan dibukanya kembali jalur strategis Selat Hormuz, perhatian dunia kini tertuju pada apakah langkah ini akan benar-benar menjadi titik balik menuju deeskalasi konflik atau hanya jeda sementara dalam ketegangan geopolitik yang lebih luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Exit mobile version