Barongsai Kini Jadi Seni, Olahraga, dan Simbol Toleransi

Avatar photo
Barongsai Imlek 2026

Menit.co.id – Barongsai menari lincah di udara setiap perayaan Imlek, melompat dari tiang ke tiang dengan gerakan akrobatik yang memukau mata penonton di tengah dentuman genderang yang menggema.

Berasal dari Tiongkok, Barongsai berkembang sebagai ekspresi seni, budaya, sekaligus simbol spiritual masyarakat Tionghoa. Dalam sejarah dan legenda, Barongsai juga mempersonifikasikan tokoh-tokoh dari kisah Sam Kok atau Tiga Kerajaan.

Seiring waktu, Barongsai tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi bertransformasi menjadi seni pertunjukan modern sekaligus cabang olahraga inklusif, melampaui batas etnis maupun keyakinan.

Di Sasana Liong & Barongsai Kung Chiao dan Wushu Genta Suci, kesenian ini berkembang menjadi cabang olahraga sekaligus wadah toleransi yang diikuti oleh berbagai etnis dan agama.

Perubahan wajah Barongsai itu dirasakan Firly, pemain Barongsai perempuan berusia 25 tahun yang telah belasan tahun bergabung di sasana tersebut. Meski berasal dari latar belakang non-Tionghoa, Firly merasa diterima sepenuhnya di dunia Barongsai.

“Saat ini Barongsai sudah menjadi cabang olahraga dan peminatnya pun bukan hanya dari kalangan Tionghoa saja,” ujar Firly saat diwawancarai di Cimanggis, Depok, Selasa (17/2/2026).

Sejak awal bergabung, Firly melihat Barongsai bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan ruang belajar disiplin, kerja sama, dan menghormati perbedaan. Latihan rutin hingga tampil di event besar membentuk cara pandangnya tentang seni dan keberagaman.

Firly memulai perjalanan Barongsai saat masih sekolah di yayasan Tionghoa yang menyediakan ekstrakurikuler kesenian tersebut. “Saya di Sasana Kung Chiao sudah hampir 13 tahun,” ujarnya di kutip dari Liputan6.

Ketertarikan Firly diterima terbuka oleh keluarga dan teman, apalagi saat Barongsai mulai diakui sebagai cabang olahraga resmi oleh KONI. “Sangat mendukung, apalagi Barongsai sudah menjadi cabang olahraga resmi,” tambahnya.

Di balik gemerlap pertunjukan, Firly mengungkap risiko cedera dan momen menegangkan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari latihan maupun penampilan. Namun, semua terbayar saat tampil di panggung besar hingga kompetisi.

Firly menegaskan bahwa tidak ada ritual khusus sebelum menari Barongsai dalam konteks olahraga dan pertunjukan. Persiapan pribadi tetap penting, termasuk doa, pemanasan, dan pengecekan alat peraga. “Pantangannya, tidak boleh merokok,” tambahnya.

Sasana yang menaungi Firly menjunjung tinggi nilai toleransi. Perbedaan keyakinan bukan penghalang, justru dirawat sebagai bagian dari kebersamaan. “Menjaga toleransi, tanpa membeda-bedakan keyakinan saat menjelang pertunjukan tetap berdoa sesuai masing-masing,” ujarnya.

Ketua Sasana Liong & Barongsai Kung Chiao dan Wushu Genta Suci, Herry, menegaskan stigma Barongsai sebagai seni eksklusif etnis Tionghoa kini tidak relevan. “Para pemain Barongsai saat ini bukan hanya dari kalangan Tionghoa, tapi sudah membaur dari berbagai etnis dan agama,” jelasnya.

Menjelang perayaan Imlek, persiapan sasana lebih fokus pada kreativitas pertunjukan agar menghibur penonton. Tidak ada ritual wajib dalam konteks pertunjukan dan pertandingan, meski dalam ritual keagamaan tertentu, sasana tetap menghormati keyakinan masing-masing pemain.

Lebih dari teknik dan prestasi, Herry menekankan filosofi yang ditanamkan kepada murid-muridnya. “Raih prestasi seindah burung merak, namun ajaran luhur jangan dilupakan,” pungkasnya.

Melalui perjalanan para pemain, Sasana Kung Chiao Genta Suci menunjukkan bahwa Barongsai kini bukan sekadar tradisi, tetapi simbol inklusivitas, toleransi, dan persatuan dalam keberagaman.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News