Menit.co.id – Kalangan pedagang pasar tradisional menyoroti klaim pemerintah, termasuk dari Perum Bulog, yang kerap menyatakan ketersediaan pasokan minyak goreng rakyat di pasar dalam kondisi aman sebagai bagian dari upaya stabilisasi pangan. Namun, di lapangan, kondisi tersebut dinilai tidak selalu sejalan dengan realitas distribusi.
Ketua DPW Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) DKI Jakarta Miftahudin menyampaikan bahwa polemik yang terjadi tidak dapat serta-merta dibebankan kepada pedagang pasar tradisional, melainkan masih adanya ketidakseimbangan pasokan yang terjadi di tingkat distribusi.
“Dalam konteks ini, perlu ditegaskan bahwa pedagang bukan penentu distribusi, melainkan pihak yang paling terdampak dari setiap kebijakan dan gangguan pasokan,” ujar Miftahudin dalam pernyataan resminya, Kamis (16/4).
Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan di lapangan, masih terdapat kondisi ketidakseimbangan pasokan yang dirasakan langsung oleh pedagang, termasuk dalam ketersediaan MinyaKita di sejumlah pasar tradisional pada momentum tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan tidak hanya berhenti pada stok, tetapi juga menyangkut kelancaran distribusi.
Menurutnya, lembaga seperti Perum Bulog yang memiliki mandat menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan seharusnya memastikan alur distribusi berjalan lancar hingga ke pasar, termasuk komoditas MinyaKita agar tidak mengalami hambatan di tingkat akhir.
Miftahudin juga mengingatkan agar narasi “stok aman” tidak berujung pada penyudutan pedagang pasar tradisional. Ia menegaskan bahwa pedagang tidak memiliki kapasitas untuk mengatur suplai maupun memengaruhi distribusi dalam skala besar.
Pedagang pasar, lanjutnya, merupakan bagian penting dari ekosistem pangan nasional dan bukan sumber masalah. Mereka justru menjadi pihak pertama yang merasakan dampak ketika terjadi gangguan dalam rantai distribusi MinyaKita di lapangan.
“Karena itu, IKAPPI menegaskan agar pedagang tidak dijadikan tumbal dalam polemik ini. Fokus perbaikan harus diarahkan pada penguatan sistem distribusi agar pasokan benar-benar stabil dan merata hingga ke tingkat pasar,” tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah pedagang juga sempat mengeluhkan terhentinya pasokan dari distributor yang menyebabkan kelangkaan di pasar. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang terpaksa menjual minyak goreng lain dengan harga lebih tinggi dibanding MinyaKita, sehingga berdampak pada daya beli masyarakat di pasar tradisional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













