Menit.co.id – Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi internal partai politik di Indonesia yang dinilai tengah mengalami stagnasi serius dalam hal regenerasi kepemimpinan.
Dalam pandangannya, persoalan yang terjadi saat ini tidak lagi sekadar macet, melainkan telah mencapai tahap yang lebih parah, yakni kebuntuan total atau gridlock. Kondisi ini, menurut Burhanuddin Muhtadi, menunjukkan tidak adanya jalan keluar dalam proses pergantian kepemimpinan di tubuh partai.
Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada partai politik lama, tetapi juga menjangkiti partai-partai yang muncul setelah era reformasi.
“Ya tadi saya sudah jelaskan secara umum regenerasi kepartaian kita macet ya, bukan macet sebenarnya, gridlock. Gridlock itu ya tidak ada jalan sama sekali,” ujar Burhanuddin dalam acara Diskusi FISIP UIN Jakarta bertajuk “Politik dan Kebebasan Akademik” pada Kamis (23/4/2026).
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa hampir seluruh partai politik di Indonesia saat ini menghadapi masalah serupa, yakni kemandekan dalam proses demokratisasi internal.
Meski demikian, Burhanuddin Muhtadi mencatat masih ada pengecualian pada beberapa partai yang dinilai relatif lebih berjalan dalam hal regenerasi kepemimpinan, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Golkar.
“Yang agak relatif lebih regenerasinya lebih jalan memang hanya satu dua partai ya, salah satunya adalah PKS dan Golkar. Di luar itu saya kira terjadi proses kemandekan demokratisasi internal partai,” tuturnya seperti dikutip dari suara.com.
Namun, ia juga memberikan catatan kritis terhadap dua partai tersebut. Menurutnya, kualitas dalam proses pemilihan kepemimpinan di PKS dan Golkar mulai menunjukkan penurunan dibandingkan sebelumnya.
Ia mencontohkan Partai Golkar yang dahulu dikenal memiliki Musyawarah Nasional (Munas) yang berlangsung kompetitif dan dinamis, kini mulai kehilangan intensitas tersebut.
“Dulu misalnya kalau kita lihat di Golkar kan Munas luar biasa intensif, kompetitif, tapi belakangan juga berkurang gitu ya, suasana regenerasi yang berkualitas, meskipun masih lebih baik dibanding banyak partai lain Golkar itu ya,” tambahnya.
Dampak Terhadap Kader Berkualitas
Burhanuddin memperingatkan bahwa stagnasi dalam regenerasi ini membawa dampak serius terhadap ekosistem politik nasional. Salah satu konsekuensi yang paling nyata adalah munculnya disinsentif bagi kader-kader potensial di dalam partai.
Ketika posisi pucuk pimpinan tidak mengalami pergantian dalam jangka panjang, kader-kader yang memiliki kualitas justru cenderung kehilangan motivasi dan memilih menjauh dari dunia politik.
“Itu semua macet kalau proses pemilihan para pimpinan partai tidak mengalami pergantian sama sekali gitu loh, dan itu yang menimbulkan semacam disinsentif buat kader partai yang berkualitas, karena merasa tidak ada suasana regenerasi di dalam dan kemudian mereka menarik diri dari urusan politik,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi langkah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengusulkan adanya perubahan regulasi terkait pembatasan masa jabatan ketua umum partai politik menjadi maksimal dua periode.
Meskipun menyadari bahwa perubahan undang-undang bukan merupakan kewenangan KPK, Burhanuddin menilai gagasan tersebut penting sebagai pemicu diskusi publik dan kritik terhadap partai politik.
“Menurut saya KPK punya terobosan yang menarik dengan memasukkan usulan tadi. Memang kewenangannya bukan di KPK untuk perubahan undang-undang, tetapi setidaknya menjadi diskusi publik ya, supaya memikirkan partai, agar partai tidak lepas dari kritik, termasuk juga memberi kesempatan buat regenerasi,” ujarnya.
Menurut Burhanuddin, sejak awal keberadaannya, fungsi utama partai politik adalah sebagai sarana kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan. Jika fungsi tersebut tidak berjalan, maka masa depan demokrasi internal partai di Indonesia akan terus berada dalam kondisi yang tidak jelas.
Ia pun menutup dengan peringatan bahwa tanpa perbaikan serius, wajah demokrasi internal partai politik akan tetap berada dalam “gambar yang buram”.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













