Emma Chamberlain: Tubuh Menjadi Kanvas di Met Gala 2026

Avatar photo
Tubuh Emma Chamberlain Menjadi Kanvas di Met Gala 2026.
Tubuh Emma Chamberlain Menjadi Kanvas di Met Gala 2026. Foto: Vogue.com
Add as preferred source on Google

Menit.co.id – Met Gala 2026 kembali menghadirkan momen fashion yang mencuri perhatian dunia, terutama lewat penampilan seorang kreator internet dan figur media global, Emma Chamberlain, yang untuk keenam kalinya hadir di ajang prestisius tersebut sekaligus kembali menjalankan perannya sebagai koresponden khusus Vogue di karpet merah.

Dalam wawancara eksklusif bersama Vogue dua hari sebelum acara, Emma Chamberlain mengungkapkan pendekatan yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia memilih untuk tidak menghadiri berbagai pesta pra-Met Gala dan memprioritaskan istirahat. “Saya menanggapinya dengan sangat serius, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya,” ujarnya. Baginya, menjaga energi dan ketenangan menjadi kunci sebelum menjalani malam penuh wawancara dengan para bintang dunia untuk platform digital Vogue.

Untuk Met Gala tahun ini, Emma Chamberlain tampil dalam gaun rancangan khusus Mugler karya Miguel Castro Freitas. Proyek ini bermula dari pertemuan sang selebritas internet tersebut bersama penata gayanya, Jared Ellner, dalam sebuah acara koktail Vogue di Paris Fashion Week, menjelang debut koleksi musim semi-musim panas 2026 sang desainer. Pertemuan tersebut berkembang menjadi hubungan profesional yang erat hingga akhirnya mengarah pada kolaborasi di Met Gala.

Kode berpakaian tahun ini, “Fashion Is Art”, menjadi titik temu sempurna bagi konsep yang diusung. Emma Chamberlain menegaskan keyakinannya bahwa fesyen adalah bentuk seni. Inspirasi personalnya datang dari lingkungan keluarga yang kreatif, terutama sang ayah yang merupakan pelukis cat minyak dan cat air. “Saya tumbuh dengan karya seni di seluruh rumah saya,” katanya, menggambarkan kedekatannya dengan dunia visual sejak kecil.

Gaun Mugler tersebut dirancang dengan pendekatan artistik yang mendalam. Emma Chamberlain dan Jared Ellner mengirimkan referensi karya seni dari seniman seperti Van Gogh dan Munch kepada tim Mugler, kemudian melakukan diskusi intens selama tiga jam. Mereka juga mempertimbangkan arsip desain Mugler, termasuk gaun kupu-kupu ikonik tahun 1997. Hasilnya adalah sketsa yang langsung disetujui tanpa banyak revisi berarti.

Proses akhir gaun tersebut melibatkan seniman Anna Deller-Yee yang secara langsung melukis kain gaun tersebut selama 40 jam menggunakan sekitar 30 warna dasar, kemudian memerlukan empat hari pengeringan. Hasil akhirnya menjadikan tubuh Emma Chamberlain benar-benar seperti kanvas hidup di atas karpet merah.

Konsep visual ini diperkuat dengan riasan lembut karya Lilly Keys yang terinspirasi warna gaun, menciptakan gradasi mauve, ungu, dan kuning lembut di area mata. Ia juga menggunakan Shark Beauty FacialPro Glow untuk menghasilkan efek kulit yang tampak reflektif, sehingga cahaya mengikuti setiap gerakan wajah. Bibir dibiarkan natural agar fokus tetap pada struktur wajah dan gaun.

Sementara itu, penata rambut Sami Knight memilih mempertahankan rambut pirang platinumnya dengan gaya yang lebih lembut dan panjang, terinspirasi ikon seperti Mia Farrow, Jean Seberg, dan Audrey Hepburn. Alat penata rambut Luxe Infrared SmartSense digunakan untuk menghasilkan tekstur halus yang menyerupai aura malaikat, selaras dengan karakter gaun yang kuat namun lembut.

Sebagai pelengkap, Emma Chamberlain mengenakan sepatu platform Stuart Weitzman berbahan satin biru tua yang diwarnai khusus untuk menyatu dengan keseluruhan tampilan. Seluruh elemen tersebut membentuk satu kesatuan estetika yang menegaskan konsep “fashion sebagai seni hidup”.

Dalam refleksinya, Emma Chamberlain menyebut bahwa ia merasa paling nyaman ketika dirinya dapat menjadi kanvas kosong yang sepenuhnya terbuka terhadap eksplorasi artistik. “Gaun ini terasa sangat cocok dengan diriku apa adanya,” ujarnya. “Saya senang terlihat seperti diri saya sendiri dalam gaun ini.”

Penampilan tersebut kembali menegaskan posisi Emma Chamberlain sebagai salah satu figur yang mampu menjembatani dunia digital, seni, dan mode di panggung Met Gala, sekaligus memperlihatkan bagaimana konsep tubuh sebagai medium seni dapat diekspresikan secara utuh di ajang fashion paling bergengsi di dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News