Menit.co.id – Kasus hukum kembali menimpa figur publik dan pebisnis kecantikan Kylie Jenner, setelah salah satu mantan asisten rumah tangganya (ART) mengajukan gugatan baru yang berisi sederet tuduhan serius terkait perlakuan di lingkungan kerja. Gugatan tersebut menambah daftar panjang persoalan ketenagakerjaan yang sebelumnya juga menyeret nama sang bintang reality show tersebut.
Dalam laporan yang dikutip dari Page Six, seorang mantan ART bernama Juana Delgado Soto resmi mengajukan gugatan terhadap Kylie Jenner di Pengadilan Tinggi Wilayah Los Angeles pada Rabu pekan lalu. Ia menuding telah mengalami perlakuan tidak adil, diskriminasi, hingga lingkungan kerja yang tidak sehat selama bekerja di kediaman selebritas tersebut.
Awal Mula dan Dugaan Perlakuan Tidak Adil
Juana Delgado Soto mengaku mulai bekerja pada Mei 2019. Sejak awal masa kerjanya, ia menyebut tidak mendapatkan hak istirahat yang layak, termasuk waktu makan dan jeda kerja, selama beberapa tahun pertama bekerja.
Situasi disebut semakin memburuk ketika seorang pengawas bernama Itzel Sibrian mulai menjabat sebagai atasannya pada akhir 2023. Dalam gugatan itu, Itzel dituduhkan melakukan tindakan perundungan, termasuk mengejek aksen Juana serta merendahkan status imigrasinya dengan sebutan yang tidak pantas.
Juana menyebut telah melaporkan perilaku tersebut kepada departemen HRD, yang kemudian membuat Itzel sempat dicopot sementara dari jabatannya. Namun setelah kembali bekerja, Itzel diduga melakukan tindakan balasan, termasuk menurunkan upah per jam dari 41,66 dolar AS (sekitar Rp722 ribu) menjadi 35 dolar AS (sekitar Rp606 ribu), mengubah jadwal kerja secara sepihak, serta memberikan beban kerja yang dinilai tidak masuk akal.
Tuduhan Tekanan Psikologis dan Ancaman
Dalam salah satu insiden yang diungkap, Juana mengklaim pernah mencoba mengajukan izin untuk meninggalkan pekerjaan di hari ulang tahunnya. Namun, ia justru diduga diancam akan dipecat oleh atasannya. Itzel disebut mengatakan bahwa tidak ada yang peduli dengan ulang tahun Juana karena Kylie Jenner sedang mengadakan makan malam.
Akibat tekanan tersebut, Juana akhirnya tetap bekerja lembur dan mengaku harus melewatkan perayaan ulang tahunnya sendiri.
Selain itu, dua pengawas kebersihan lain bernama Patsy dan Elsy juga disebut dalam gugatan. Keduanya sebelumnya juga muncul dalam kasus serupa yang diajukan ART lain terhadap Kylie Jenner. Juana menuduh keduanya memperlakukannya secara tidak manusiawi, termasuk menolak permohonan cuti duka ketika saudaranya meninggal secara mendadak pada Maret 2025.
Lebih jauh, ia menyebut bahwa permintaan cutinya justru dipertanyakan dan dianggap tidak benar. Bahkan, ia dituduh diminta tetap bekerja meski dalam kondisi berduka, termasuk memunguti sampah yang sengaja disebar di lantai. Saat menangis dan meminta air minum, ia mengklaim justru dilarang mengambil air yang ada di rumah tersebut.
Upaya Melapor ke Majikan
Dalam perkembangan lain, pada April 2025 Juana mengaku telah menulis surat panjang yang berisi keluhan mengenai dugaan pelecehan, diskriminasi, serta tindakan balas dendam yang ia alami. Surat tersebut kemudian diletakkan di kamar perawatan Kylie Jenner.
Namun, alih-alih mendapatkan tanggapan, ia justru mengaku menerima ancaman pemecatan serta larangan untuk berkomunikasi langsung dengan sang majikan. Ia juga menyebut bahwa dirinya diberitahu bahwa Kylie Jenner tidak peduli terhadapnya.
Setelah itu, ia mengklaim situasi semakin memburuk, termasuk pembatasan akses ke kamar mandi, kewajiban membersihkan kandang anjing, serta larangan minum air di lokasi kerja. Bahkan, ia disebut tidak boleh menatap atau tersenyum kepada Kylie Jenner dengan ancaman akan “menghilang” jika melanggar aturan tersebut.
Pengunduran Diri dan Dampak Psikologis
Juana akhirnya mengundurkan diri pada Agustus 2025. Dalam pesan terakhirnya kepada pihak atasan, ia mengungkapkan kondisi mental yang memburuk akibat tekanan kerja yang ia alami.
Ia menulis bahwa dirinya tidak lagi sanggup menahan perlakuan buruk yang diterima setiap hari, mengalami kesulitan tidur, kecemasan berkepanjangan, hingga kebiasaan menggigit kuku akibat stres. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada bantuan yang ia terima meski sudah berulang kali mencoba meminta pertolongan.
Isi Gugatan dan Tuntutan Hukum
Dalam gugatan tersebut, Juana mengajukan sejumlah tuntutan ganti rugi yang belum ditentukan jumlahnya. Ia menargetkan beberapa pihak sekaligus, termasuk Kylie Jenner, Kylie Jenner Inc., Itzel Sibrian, Tri Star Services, dan La Maison Family Services.
Total terdapat 20 poin keluhan yang diajukan, mulai dari diskriminasi rasial, pelecehan berbasis ras, pembalasan terhadap pelapor, hingga tekanan emosional yang disengaja.
Gugatan Lain yang Menyeret Nama Kylie Jenner
Kasus ini bukan satu-satunya yang muncul dalam waktu dekat. Sebelumnya, seorang mantan ART lain bernama Angelica Vasquez juga melayangkan gugatan terhadap Kylie Jenner dengan tuduhan serupa.
Angelica mengklaim mengalami diskriminasi berdasarkan agama dan asal kebangsaan selama bekerja. Ia menyebut dua pengawas yang sama, Patsy dan Elsy, kerap melontarkan komentar bernada merendahkan, termasuk mengejek aksen yang ia miliki.
Setelah mengalami tekanan psikologis, Angelica juga mengundurkan diri pada Agustus 2025. Saat ini ia menuntut ganti rugi atas upah yang belum dibayarkan serta kompensasi atas tekanan emosional yang dialaminya.
Dengan dua gugatan yang muncul hampir berurutan, sorotan terhadap lingkungan kerja di sekitar Kylie Jenner kembali menjadi perhatian publik dan memicu perdebatan mengenai perlindungan pekerja rumah tangga di lingkungan selebritas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













