Lapid-Bennett Bersatu Tantang Benjamin Netanyahu di Pemilu Israel

Avatar photo
Benjamin Netanyahu
Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara selama konferensi pers bersama dengan Presiden AS Donald Trump (tidak terlihat dalam gambar), di Ruang Makan Negara di Gedung Putih, di Washington, D.C., AS, 29 September 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Add as preferred source on Google

Menit.co.id – Pemimpin oposisi Israel sekaligus mantan perdana menteri, Yair Lapid, resmi menyatakan akan berkoalisi dengan eks PM Naftali Bennett dalam menghadapi pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.

Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk menggulingkan pemerintahan petahana Benjamin Netanyahu.

Dalam pernyataannya, Lapid menegaskan bahwa ia dan Bennett akan maju bersama dalam satu daftar gabungan pada pemilu parlemen mendatang.

Kesepakatan ini disebut sebagai langkah awal pembentukan kekuatan politik baru yang menantang dominasi Benjamin Netanyahu di panggung politik Israel.

Melalui unggahan di platform X pada Minggu (26/4), Lapid menyampaikan bahwa keduanya akan “mengumumkan hari ini langkah pertama dalam proses memperbaiki Negara Israel: penggabungan Yesh Atid dan ‘Bennett 2026’ menjadi satu partai yang dipimpin mantan Perdana Menteri Naftali Bennett.”

Ia menambahkan bahwa inisiatif ini bertujuan menyatukan apa yang ia sebut sebagai “Blok Perbaikan” agar seluruh energi politik dapat difokuskan pada pemulihan Israel.

Lapid dan Bennett selama ini dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan Benjamin Netanyahu, terutama terkait eskalasi konflik Israel sejak Oktober 2023 di Jalur Gaza, Palestina.

Lapid bahkan sempat menyebut gencatan senjata dua pekan dengan Iran sebagai “bencana politik”, menandakan ketidaksetujuannya terhadap arah kebijakan keamanan pemerintah saat ini.

Sementara itu, Bennett memiliki latar belakang politik sayap kanan dan dikenal sebagai pendukung lama permukiman Israel di Tepi Barat.

Ia sebelumnya juga pernah menjadi bagian dari lingkaran dekat Benjamin Netanyahu sebelum akhirnya berbalik menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap mantan mentornya tersebut.

Dalam dinamika politik Israel, Bennett dan Lapid pernah berada dalam satu pemerintahan koalisi pada Juni 2021 yang kemudian berakhir pada 2022.

Pemerintahan itu runtuh setelah Bennett menyatakan koalisinya tidak lagi dapat dipertahankan, yang kemudian membuka jalan bagi kembalinya Benjamin Netanyahu ke tampuk kekuasaan. Lapid sendiri sempat menjabat sebagai perdana menteri sementara dalam masa transisi tersebut.

Sejumlah survei politik menunjukkan bahwa Bennett menjadi salah satu kandidat yang dinilai paling berpotensi menandingi dominasi Benjamin Netanyahu dalam pemilu mendatang.

Faktor ini membuat koalisi baru bersama Lapid dipandang sebagai ancaman politik serius bagi petahana.

Bennett, yang kini berusia 54 tahun, memiliki latar belakang sebagai mantan perwira pasukan komando Israel serta pengusaha teknologi tinggi.

Ia pernah menjual perusahaan rintisannya pada 2005 dengan nilai sekitar 145 juta dolar AS. Karier politiknya juga mencakup kepemimpinan di sejumlah partai sayap kanan sebelum membentuk pemerintahan persatuan pada 2021.

Sementara itu, Yair Lapid, yang kini berusia 62 tahun, merupakan putra dari jurnalis dan menteri Tommy Lapid serta penulis Shulamit Lapid.

Ia memulai karier politiknya pada 2012 dengan mendirikan partai Yesh Atid, yang kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan politik utama di Israel.

Lapid juga dikenal luas sebagai mantan jurnalis televisi sebelum terjun ke dunia politik.

Di sisi lain, Benjamin Netanyahu masih berencana memimpin partainya dalam pemilu mendatang yang wajib digelar paling lambat akhir Oktober.

Jika kembali menang, ia akan mencatat sejarah sebagai pemimpin Israel dengan masa jabatan terpanjang, melampaui 18 tahun dalam beberapa periode kepemimpinan.

Kabar mengenai koalisi Lapid dan Bennett ini muncul tidak lama setelah Benjamin Netanyahu mengungkapkan kondisi kesehatannya yang didiagnosis menderita kanker prostat dan saat ini masih menjalani perawatan.

Ia menyebut penundaan pengungkapan laporan medis selama dua bulan dilakukan untuk menghindari kemungkinan penggunaan isu tersebut sebagai propaganda oleh Iran.

Netanyahu yang kini berusia 76 tahun juga diketahui menjalani operasi terkait pembesaran prostat pada Desember 2024.

Dalam pernyataannya di media sosial, ia menyebut dokter menemukan tumor ganas berukuran kurang dari satu sentimeter di prostatnya.

Kantor Perdana Menteri turut merilis dua surat dari tim dokter yang mengonfirmasi kondisi medis tersebut sebagai bagian dari transparansi informasi kesehatan pemimpin negara.

Di tengah situasi politik yang memanas, kesehatan Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan publik bersamaan dengan meningkatnya persaingan menuju pemilu Israel mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News