Menit.co.id – Sosok Nus Kei kembali menjadi sorotan publik setelah peristiwa tragis yang merenggut nyawanya di Bandara Karel Sadsuitubun, Maluku Tenggara.
Pria bernama lengkap Agrapinus Rumatora ini dikenal luas bukan sebagai figur biasa, melainkan tokoh berpengaruh yang memiliki posisi penting dalam dinamika politik daerah.
Nus Kei tercatat menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Maluku Tenggara.
Dalam perjalanan karier politiknya, ia bahkan sempat memperoleh surat tugas dari partai untuk maju dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Maluku Tenggara periode 2024–2029. Namun, langkah politiknya tidak berjalan mulus seperti yang direncanakan.
Di luar dunia politik, Nus Kei juga merupakan bagian dari etnik Kei, kelompok masyarakat yang mendiami wilayah Kepulauan Kei di Provinsi Maluku.
Ia dikenal sebagai figur yang disegani di lingkungan masyarakatnya. Selain itu, hubungan keluarganya turut menjadi perhatian, karena ia merupakan paman dari John Refra alias John Kei.
Meskipun memiliki hubungan darah, relasi antara Nus Kei dan kelompok John Kei kerap diwarnai konflik. Perseteruan antara kedua kelompok ini telah berlangsung lama dan beberapa kali berujung bentrokan terbuka.
Salah satu insiden besar terjadi pada tahun 2020 di kawasan perumahan Green Lake City, Tangerang. Bentrokan tersebut dipicu oleh perselisihan pembagian uang hasil penjualan lahan seluas 31 hektare di RSUD Haulussy, Ambon, dengan nilai mencapai Rp49,97 miliar.
Dalam konflik itu, John Kei menuntut pengembalian uang sebesar Rp1 miliar yang diklaim sebagai pinjaman. Namun, Nus Kei menolak dengan alasan dana tersebut merupakan biaya operasional. Perselisihan ini kemudian berujung pada bentrok yang menyebabkan satu orang tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.
Akibat kasus tersebut, John Kei kini menjalani hukuman penjara selama 15 tahun atas vonis pembunuhan berencana dan pengeroyokan terhadap kelompok Nus Kei.
Konflik tidak berhenti di situ. Pada akhir Oktober 2023, bentrokan kembali terjadi di Kompleks Titian, Medan Satria, Kota Bekasi. Insiden tersebut melibatkan kelompok Nus Kei dan kelompok John Kei, meskipun saat itu John Kei tengah menjalani masa tahanan di Lapas Salemba, Jakarta Pusat. Peristiwa ini menewaskan seorang pria berinisial GR (44) yang diketahui merupakan bagian dari kelompok John Kei.
Tragedi terbaru terjadi pada Minggu, 19 April 2026. Nus Kei tewas setelah ditikam sesaat setelah mendarat di Bandara Karel Sadsuitubun usai penerbangan dari Bandara Pattimura, Ambon.
Awalnya, ia dijemput oleh pihak keluarga di bandara. Namun, hanya beberapa menit setelah kedatangannya, seorang pria bermasker dengan jaket merah mendekat dan langsung melakukan penikaman.
Dalam kondisi terluka, Nus Kei masih sempat berjalan menuju ruang tunggu bandara untuk menyelamatkan diri. Keluarga yang berada di lokasi segera membawanya ke rumah sakit sekitar pukul 11.10 WIT.
Sayangnya, meskipun telah mendapatkan penanganan medis, nyawanya tidak tertolong. Nus Kei dinyatakan meninggal dunia pada pukul 11.44 WIT akibat pendarahan hebat dan kerusakan organ vital.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa korban mengalami empat luka tusuk, masing-masing di bagian dada kanan dan kiri, leher sisi kiri, serta di area tulang belakang.
Peristiwa ini menambah panjang daftar konflik yang melibatkan Nus Kei dan menjadi akhir tragis dari perjalanan hidup tokoh yang selama ini dikenal berpengaruh di Maluku Tenggara.
Kasus pembunuhan Nus Kei kini menjadi perhatian aparat penegak hukum yang tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
