Menit.co.id – Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa rendahnya produksi tebu di Indonesia saat ini banyak disebabkan oleh kondisi ratoon tebu rusak yang meluas.
Data terbaru menunjukkan bahwa antara 70 hingga 80 persen ratoon di dalam negeri mengalami kerusakan parah, sehingga menghambat produktivitas nasional.
Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI yang membahas isu produktivitas serta tata kelola gula nasional.
Ratoon adalah tunas tebu yang muncul kembali dari sisa batang atau akar setelah panen. Metode ini memang dikenal efisien karena menekan biaya tanam, namun bila tidak dikelola dengan baik, ratoon tebu rusak akan menyebabkan penurunan hasil yang signifikan.
Menurut Amran, sebagian besar ratoon yang ada saat ini sudah tidak memenuhi standar pertumbuhan optimal, sehingga memerlukan pembongkaran dan peremajaan.
Amran Sulaiman menekankan bahwa permasalahan ini bukan hal baru. Saat menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di sektor gula puluhan tahun lalu, ia sudah menemui banyak ratoon tua yang menjadi kendala utama petani.
Banyak di antaranya berumur 7 hingga 10 tahun, bahkan ada yang mencapai 20 tahun, tetapi tetap dihitung sebagai ratoon keempat. Kondisi ini menunjukkan bagaimana praktik pemeliharaan ratoon yang kurang tepat dapat memengaruhi hasil panen.
Data historis yang dikumpulkan Amran bersama tim dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) menunjukkan produktivitas tebu di Indonesia pada era 1930 mencapai 14 ton gula per hektar. Namun, setelah kemerdekaan, angka ini merosot drastis menjadi sekitar 4,9 ton per hektar.
Salah satu faktor utama penurunan ini adalah ratoon tebu rusak yang tidak dibongkar sesuai kebutuhan. Idealnya, 25 persen ratoon dibongkar setiap tahun untuk mempertahankan produktivitas tinggi, tetapi kenyataannya hanya sekitar 10 persen yang diperbarui.
Untuk menangani kondisi ini, pemerintah telah mengalokasikan dana hibah sebesar Rp 1,7 triliun melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dana ini ditujukan untuk program pembongkaran dan peremajaan ratoon milik masyarakat. Strategi ini diharapkan dapat mengurangi jumlah ratoon tebu rusak di lahan pertanian nasional serta meningkatkan hasil panen gula.
Selain itu, pemerintah bersama pihak swasta dan PTPN merencanakan program perbaikan lahan tebu seluas 100.000 hektar per tahun.
Amran optimis bahwa langkah strategis ini, jika dijalankan secara konsisten, dapat membantu Indonesia mencapai swasembada gula putih pada tahun 2027.
Program ini tidak hanya fokus pada pembongkaran ratoon tua, tetapi juga pada perbaikan teknik pemeliharaan, pemupukan, dan pengairan untuk memastikan pertumbuhan yang optimal.
Data pemerintah menunjukkan bahwa total areal panen tebu pada tahun 2025 mencapai 563.000 hektar dengan produktivitas rata-rata 4,7 ton per hektar.
Hasil panen ini menghasilkan 2,67 juta ton gula kristal putih. Sementara itu, kebutuhan konsumsi gula domestik mencapai 2,8 juta ton, dan kebutuhan industri sebesar 3,9 juta ton. Artinya, Indonesia masih memerlukan tambahan 4,03 juta ton gula untuk memenuhi total kebutuhan nasional.
Selain itu, perhatian pada peremajaan ratoon juga penting untuk menjaga kualitas gula yang dihasilkan. Ratoon yang terus menua tanpa perawatan akan menghasilkan tebu yang mengandung lebih sedikit gula dan lebih banyak serat, sehingga mengurangi efisiensi proses produksi.
Dengan program pembongkaran yang tepat, kualitas gula dapat meningkat secara signifikan, memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan industri.
Masalah ratoon tebu rusak ini menjadi peringatan bagi seluruh stakeholder industri gula di Indonesia. Tanpa tindakan cepat dan konsisten, produksi gula nasional berisiko stagnan, bahkan menurun lebih jauh.
Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah, petani, dan perusahaan swasta sangat penting untuk memastikan pengelolaan lahan tebu yang berkelanjutan.
Kesimpulannya, penurunan produktivitas tebu di Indonesia lebih disebabkan oleh kondisi ratoon tebu rusak yang tidak dikelola dengan baik.
Program pembongkaran, peremajaan lahan, dan perbaikan teknik budidaya merupakan langkah strategis untuk mencapai target swasembada gula pada 2027.
Dengan komitmen semua pihak, Indonesia berpeluang meningkatkan hasil panen, mengurangi ketergantungan impor, dan memastikan pasokan gula yang stabil bagi masyarakat serta industri nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













