Menit.co.id – Kegagalan tim nasional Italia untuk kembali menembus putaran final Piala Dunia memicu perdebatan besar soal arah permainan dan identitas sepak bola mereka.
Dalam hasil terbaru yang terjadi pada Selasa, 21 April 2026, Gli Azzurri harus mengakui keunggulan Bosnia & Herzegovina melalui adu penalti pada babak playoff setelah pertandingan berakhir imbang hingga perpanjangan waktu.
Hasil tersebut sekaligus menjadi kegagalan ketiga secara beruntun bagi Italia untuk lolos ke ajang Piala Dunia, sebuah situasi yang jarang terjadi dalam sejarah sepak bola mereka.
Situasi ini memunculkan berbagai kritik, termasuk evaluasi terhadap sistem pembinaan pemain muda yang dianggap belum mampu melahirkan generasi penerus sekuat era sebelumnya.
Di tengah sorotan tersebut, legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit, turut memberikan pandangannya.
Dalam komentarnya yang dikutip dari Football Italia, Ruud Gullit menegaskan bahwa Italia perlu kembali kepada akar permainan mereka yang selama ini dikenal dunia: pertahanan yang solid dan disiplin tinggi.
Menurut Ruud Gullit, fondasi sepak bola Italia yang pernah membawa mereka meraih empat gelar juara dunia mulai kehilangan karakter khasnya.
Ia menilai bahwa kekuatan utama Italia seharusnya tetap bertumpu pada lini belakang yang kokoh, penjaga gawang yang tangguh, serta penyerang yang efektif dalam memanfaatkan peluang.
“Anda harus kembali ke DNA Italia, yaitu bek-bek hebat, kiper-kiper tangguh, dan penyerang-penyerang yang tajam,” ujar Ruud Gullit sebagaimana dikutip dari laporan Football Italia.
Lebih lanjut, Ruud Gullit juga menyoroti keberhasilan Italia di Euro 2020 sebagai contoh nyata kekuatan identitas tersebut.
Pada turnamen itu, Italia berhasil menjadi juara Eropa setelah menumbangkan Inggris di partai final melalui drama adu penalti, dengan pertahanan yang menjadi fondasi utama sepanjang turnamen.
Dalam pandangan Ruud Gullit, keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran besar para pemain bertahan seperti Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini yang menjadi simbol kekuatan lini belakang Italia.
Ia menegaskan bahwa karakter seperti itulah yang seharusnya kembali dihidupkan jika Italia ingin bangkit di level internasional.
“Trofi terakhir yang dimenangkan Italia sebagian besar berkat jasa Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Itulah DNA kalian, bek-bek terbaik,” lanjut Ruud Gullit dalam komentarnya.
Di sisi lain, meskipun gagal dalam kualifikasi Piala Dunia terbaru, Italia sebenarnya pernah menunjukkan performa gemilang di level Eropa dengan generasi yang diperkuat nama-nama seperti Giorgio Chiellini, Jorginho, dan Lorenzo Insigne. Namun, kini skuad tersebut tengah mengalami masa transisi.
Saat ini, kiper Gianluigi Donnarumma menjadi salah satu pemain senior yang masih tersisa dari generasi juara Euro 2020 tersebut.
Ia dipandang sebagai fondasi penting dalam proses regenerasi tim yang sedang dibangun ulang untuk menghadapi kompetisi masa depan.
Di tengah berbagai evaluasi tersebut, suara dari Ruud Gullit kembali menguatkan pandangan bahwa Italia mungkin perlu mempertimbangkan kembali pendekatan klasik mereka.
Dengan menghidupkan kembali filosofi defensif yang dikenal sebagai catenaccio, banyak pihak menilai Italia berpeluang menemukan kembali identitas yang pernah menjadikan mereka salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













