Shivon Zilis di Tengah Konflik Elon Musk dan OpenAI

Avatar photo
Shivon Zilis
Add as preferred source on Google

Menit.co.id – Nama Shivon Zilis kembali menjadi sorotan setelah kesaksiannya membuka sejumlah fakta penting dalam perseteruan hukum antara Elon Musk dan OpenAI.

Sosok yang pernah duduk di dewan perusahaan kecerdasan buatan itu disebut memiliki peran besar dalam aliran komunikasi antara Musk dan pimpinan OpenAI sejak masa awal pengembangan teknologi AI modern.

Shivon Zilis diketahui merupakan eksekutif di sejumlah perusahaan milik Musk sekaligus anggota dewan OpenAI pada 2022.

Di balik posisinya tersebut, ia ternyata menyimpan fakta pribadi yang tidak diketahui publik selama bertahun-tahun.

Musk merupakan ayah dari anak kembarnya yang lahir pada 2021. Hubungan keduanya kemudian berkembang dan mereka diketahui memiliki dua anak lagi.

Kedekatan Shivon Zilis dengan Musk kini menjadi bagian penting dalam proses hukum yang mempertemukan pendiri Tesla itu dengan OpenAI.

Dalam persidangan, kesaksian Zilis menyoroti bagaimana dirinya menjadi penghubung komunikasi antara Musk dan jajaran pimpinan OpenAI hingga miliarder itu mendirikan perusahaan AI pesaing pada 2023.

Musk yang ikut mendirikan serta mendanai OpenAI menggugat perusahaan tersebut bersama sejumlah petingginya.

Ia menuduh OpenAI telah melakukan penipuan, melanggar amanat organisasi nirlaba, dan mengubah tujuan awal perusahaan demi keuntungan bisnis.

Menurut Musk, arah perusahaan telah bergeser dari misi kemanusiaan menuju orientasi komersial.

Shivon Zilis sempat tercatat sebagai penggugat bersama dalam perkara itu sebelum akhirnya mengundurkan diri.

Di sisi lain, OpenAI membantah seluruh tuduhan tersebut. Perusahaan menilai Musk justru pernah mendorong pembentukan struktur bisnis yang memungkinkan OpenAI memperoleh keuntungan komersial.

OpenAI juga menuduh Musk menggugat karena gagal mendapatkan kendali penuh atas perusahaan sebelum meninggalkan organisasi itu pada 2018.

Dalam dokumen persidangan, OpenAI menyebut Shivon Zilis mengetahui rencana Musk untuk membangun perusahaan pesaing jauh sebelum informasi tersebut diketahui publik.
Salah satu bukti yang diajukan berupa pesan teks Zilis kepada rekannya.

Dalam pesan itu ia menulis bahwa dirinya harus mundur dari dewan karena rencana kompetitif Musk sudah diketahui banyak pihak.

“Ketika ayah dari bayi-bayimu memulai upaya yang kompetitif dan akan merekrut dari OpenAI, tidak ada yang bisa dilakukan,” tulis Zilis dalam pesan yang kemudian dipakai sebagai bukti di pengadilan.

Kesaksian lain mengungkap bahwa Zilis telah terlibat dalam berbagai pembicaraan strategis sejak awal berdirinya OpenAI.

Pada 2017 misalnya, ia ikut dalam diskusi mengenai kemungkinan membangun struktur perusahaan pencetak laba demi membiayai pengembangan AI.

Opsi yang sempat dibahas mencakup pembentukan entitas bisnis baru hingga kemungkinan Tesla mengakuisisi OpenAI.

Pengacara OpenAI berupaya menunjukkan bahwa Musk dan Zilis pernah membicarakan pembentukan model bisnis berorientasi keuntungan.

Sebaliknya, tim hukum Musk mencoba membuktikan bahwa Zilis percaya OpenAI telah meninggalkan misi awalnya sebagai organisasi nirlaba.

Setelah Musk keluar dari dewan OpenAI dan menghentikan pendanaan, hubungan komunikasi keduanya tetap berjalan.

Zilis masih berperan sebagai penghubung bagi Musk yang saat itu berencana merekrut beberapa staf OpenAI ke Tesla.

Presiden OpenAI, Greg Brockman, turut memberikan kesaksian dalam perkara tersebut.

Ia mengatakan bahwa Shivon Zilis pernah menyebut hubungannya dengan Musk bersifat platonis sehingga dewan perusahaan mengizinkannya tetap berada di posisi strategis.
Brockman juga mengaku tidak mengetahui adanya hubungan romantis di antara keduanya saat itu.

Persidangan ini dinilai dapat membawa dampak besar terhadap industri kecerdasan buatan global apabila Musk memenangkan gugatan.

Salah satu kemungkinan yang muncul adalah OpenAI dipaksa kembali menjadi organisasi nirlaba serta pencopotan posisi CEO Sam Altman dan Brockman dari jajaran direksi.

Dalam keterangannya, Zilis menegaskan hubungan pribadinya dengan Musk tidak pernah memengaruhi sikap profesionalnya di dewan OpenAI.

Ia bahkan pernah mendukung investasi senilai USD 10 miliar dari Microsoft yang sebelumnya mendapat kritik keras dari Musk.

Menurut Zilis, pandangannya terhadap OpenAI mulai berubah setelah polemik investasi tersebut, termasuk ketika CEO Microsoft Satya Nadella ikut terlibat dalam proses pengembalian Sam Altman sebagai CEO usai sempat diberhentikan.

“Tampaknya semua yang telah kami bangun bersama sejak awal sebagai lembaga nirlaba untuk sekadar mempertahankan misi menjadikan ini baik bagi kemanusiaan, entah bagaimana telah direnggut atau kehilangan taringnya,” ujar Zilis dalam persidangan.

Shivon Zilis juga menjelaskan awal perkenalannya dengan Musk terjadi pada 2016 ketika dirinya menjadi penasihat di OpenAI.

Hubungan keduanya sempat berkembang menjadi romansa singkat sebelum berubah menjadi persahabatan dan kerja profesional. Setelah itu, ia menduduki sejumlah posisi penting di Tesla, xAI, dan Neuralink.

Pada akhir 2020, Musk disebut menawarkan diri menjadi ayah bagi anak-anak Zilis. Dalam kesaksiannya, Zilis menyebut Musk memang sering mendorong orang-orang di sekitarnya untuk memiliki keturunan.

“Secara umum ia mendorong semua orang di sekitarnya memiliki anak, menyadari bahwa saya belum memilikinya, dan mengatakan jika itu menarik bagi saya, ia akan dengan senang hati memberi donasi sperma,” kata Zilis dikutip dari detikcom.

Anak kembar mereka lahir melalui program bayi tabung pada 2021. Identitas ayah biologis anak-anak tersebut sempat dirahasiakan, bahkan dari ayah Zilis sendiri, karena adanya perjanjian kerahasiaan.

Fakta itu baru terungkap ke publik pada 2022 setelah laporan media Business Insider.

Awalnya, Zilis hanya menggambarkan Musk sebagai donor sperma. Namun seiring waktu, hubungan Musk dengan anak-anak tersebut berkembang penuh sebagai seorang ayah dan pasangan itu kemudian memiliki dua anak tambahan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News