Menit.co.id – Kabar mengenai dugaan wabah hantavirus yang menimpa kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik memicu perhatian luas publik, termasuk di Indonesia.
Isu ini viral di media sosial karena disebut-sebut menewaskan sejumlah penumpang selama pelayaran internasional yang melintasi rute ekstrem dari Amerika Selatan menuju Afrika Barat.
Banyak warganet kemudian mempertanyakan apakah wabah hantavirus tersebut berpotensi menyebar ke Indonesia dan apakah situasi ini dapat berkembang menjadi ancaman kesehatan global.
Kekhawatiran itu muncul seiring meningkatnya sensitivitas masyarakat terhadap penyakit menular baru atau yang kembali muncul (emerging diseases).
Kronologi kejadian di MV Hondius
Kapal pesiar MV Hondius yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions berbendera Belanda diketahui berangkat dari Ushuaia, Argentina, sekitar 20 Maret 2026.
Kapal tersebut membawa sekitar 150 hingga 170 penumpang dan kru dari berbagai negara dalam sebuah ekspedisi pelayaran yang melintasi kawasan Antartika dan Kepulauan Falkland sebelum menuju Cape Verde di lepas pantai Afrika Barat.
Namun perjalanan tersebut berubah menjadi sorotan internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas kesehatan Afrika Selatan melaporkan adanya kematian akibat dugaan infeksi hantavirus.
Tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia, termasuk pasangan suami istri asal Belanda berusia 70 dan 69 tahun serta satu korban lainnya yang identitasnya belum dipublikasikan secara rinci.
Selain itu, setidaknya satu hingga dua kasus telah terkonfirmasi positif hantavirus melalui pemeriksaan laboratorium, sementara beberapa kasus lain masih dalam tahap investigasi.
Seorang penumpang juga dilaporkan dalam kondisi kritis dan sedang menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan setelah proses evakuasi medis dilakukan.
Sebagai langkah pencegahan, kapal sempat dilarang merapat di Cape Verde, menunjukkan tingkat kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan penyebaran infeksi di lingkungan pelayaran internasional tersebut.
Karakteristik virus dan cara penularan
Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus. Penularan ke manusia umumnya terjadi bukan melalui kontak langsung antar manusia, melainkan melalui inhalasi partikel udara yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang mengering.
Gejala awal infeksi sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan mual. Namun pada kasus yang lebih berat, penyakit ini dapat berkembang menjadi sindrom paru hantavirus (HPS) yang menyerang sistem pernapasan, atau sindrom demam berdarah dengan gangguan ginjal (HFRS). Tingkat kematian pada kasus berat dapat mencapai 30 hingga 40 persen, menjadikannya salah satu virus yang cukup berbahaya meski jarang terjadi.
Dalam konteks ini, dugaan wabah hantavirus di kapal pesiar tersebut menjadi perhatian karena sifat penyakit yang serius, meskipun penularannya tidak semudah virus pernapasan seperti influenza atau COVID-19.
Situasi di Indonesia: tidak ada wabah aktif
Hingga saat ini, tidak ada indikasi bahwa kejadian di kapal MV Hondius berkaitan dengan penyebaran ke Indonesia. Otoritas kesehatan menegaskan bahwa kasus tersebut terjadi jauh di wilayah Samudra Atlantik dan tidak menunjukkan adanya transmisi lintas kawasan ke Asia Tenggara.
Risiko masuknya infeksi dari kejadian ini ke Indonesia dinilai sangat rendah karena pola penularan hantavirus tidak terjadi melalui kontak antarmanusia secara luas, melainkan bergantung pada paparan lingkungan yang terkontaminasi.
Meski demikian, Indonesia tidak sepenuhnya bebas dari virus ini. Pada pertengahan 2025, Kementerian Kesehatan melaporkan adanya delapan kasus hantavirus tipe HFRS yang tersebar di empat provinsi, yakni Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Seluruh pasien pada saat itu dilaporkan berhasil sembuh.
Kasus tersebut bersifat sporadis dan berkaitan dengan paparan lokal dari lingkungan yang terkontaminasi tikus, bukan dalam bentuk wabah hantavirus yang meluas atau berkelanjutan.
Faktor risiko dan kewaspadaan
Secara epidemiologis, Indonesia memiliki sejumlah faktor yang dapat menjadi potensi risiko, seperti populasi tikus yang cukup tinggi di beberapa wilayah, sanitasi yang belum merata, serta aktivitas pertanian dan penyimpanan bahan pangan yang memungkinkan terjadinya kontaminasi.
Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa kejadian di kapal pesiar MV Hondius tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi di Indonesia. Virus ini juga telah lama diketahui bersifat endemik di berbagai wilayah dunia, termasuk Amerika Latin yang menjadi titik awal pelayaran kapal tersebut.
Dalam konteks ini, isu wabah hantavirus di media sosial perlu dipahami secara proporsional agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan di masyarakat.
Gejala, pencegahan, dan imbauan kesehatan
Gejala hantavirus umumnya muncul antara 1 hingga 8 minggu setelah seseorang terpapar. Tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi mendadak, nyeri otot, pusing, batuk, hingga sesak napas.
Jika seseorang memiliki riwayat kontak dengan tikus atau berada di lingkungan berdebu yang berpotensi terkontaminasi, pemeriksaan medis segera sangat dianjurkan.
Untuk pencegahan, beberapa langkah penting yang disarankan antara lain menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menutup celah yang dapat menjadi akses masuk tikus, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat. Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, penggunaan masker dan sarung tangan sangat dianjurkan, dengan terlebih dahulu membasahi area tersebut menggunakan disinfektan agar partikel tidak terhirup.
Kementerian Kesehatan Indonesia terus melakukan pemantauan terhadap penyakit menular baru, termasuk hantavirus, melalui sistem surveilans epidemiologi. Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi viral, namun tetap menjaga kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan.
Kasus kematian di MV Hondius yang dikaitkan dengan dugaan wabah hantavirus ini tergolong peristiwa langka dalam dunia pelayaran internasional. Meski menarik perhatian global karena tingkat fatalitasnya, hingga kini belum ada bukti bahwa kejadian tersebut berkembang menjadi ancaman penyebaran ke Indonesia atau kawasan Asia Tenggara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













