Orang Tua Ungkap Dugaan Kekerasan Sadis di Daycare Little Aresha

Avatar photo
KPAI Desak Penutupan Permanen Daycare Little Aresha
Add as preferred source on Google

Menit.co.id – Kasus dugaan penganiayaan terhadap anak-anak di sebuah tempat penitipan anak atau daycare yang dikenal sebagai Little Aresha di Yogyakarta memunculkan kisah memilukan dari para orang tua korban.

Mereka menggambarkan perlakuan yang dialami anak-anak tidak manusiawi, bahkan disamakan dengan kondisi penahanan ekstrem seperti di Kamp Guantanamo, Kuba.

Sebagaimana diketahui, Kamp Guantanamo merupakan fasilitas penahanan militer milik Amerika Serikat yang didirikan pada 2002 di Kuba.

Tempat tersebut selama bertahun-tahun menjadi sorotan dunia internasional karena berbagai tuduhan penyiksaan serta perlakuan keras terhadap para tahanan yang diduga terlibat dalam kasus terorisme.

Perbandingan ekstrem itu disampaikan oleh salah satu orang tua korban, Noorman Windarto, yang mengaku masih terguncang saat menceritakan kembali kondisi yang diduga terjadi di daycare tersebut.

Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa kecewa sekaligus keterkejutannya setelah mengetahui jumlah anak yang ditampung di lokasi itu jauh melebihi perkiraan para orang tua.

“Kita ya percaya saja kalau tempatnya luas dan yang bikin konyol kami itu kita nggak nanyakan di sana tuh sebenarnya sudah ada berapa anak,” ujar Noorman usai mengikuti pertemuan dengan Wali Kota Yogyakarta, sebagaimana dikutip dari detikJogja, Senin (27/4/2026).

Ia melanjutkan bahwa fakta yang ditemukan di lapangan membuat para orang tua tidak menyangka. Menurutnya, jumlah anak yang berada di daycare tersebut ternyata mencapai lebih dari 50 anak dengan rentang usia bayi hingga balita.

“Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih ya, anak yang usia bayi sampai balita tuh, wah luar biasa ternyata nggak manusiawi, kalau sama Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini,” tambahnya.

Pernyataan itu menggambarkan betapa besar tekanan emosional yang dialami para orang tua setelah mengetahui kondisi yang diduga terjadi di Little Aresha.

Banyak dari mereka mengaku sulit menerima kenyataan bahwa tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak justru diduga menjadi lokasi kekerasan.

Noorman juga mengungkapkan bahwa dirinya turut hadir ke lokasi saat proses penggerebekan yang dilakukan oleh kepolisian pada Jumat (24/7).

Dalam kesempatan tersebut, ia menyaksikan langsung rekaman video yang diduga merekam aktivitas di dalam daycare.

Namun, ia mengaku tidak mampu menonton video tersebut hingga selesai karena isi rekaman yang dinilai terlalu berat secara emosional. Pengalaman itu meninggalkan trauma tersendiri bagi dirinya sebagai orang tua.

Kasus yang menyeret nama Little Aresha ini kini menjadi perhatian publik, terutama para orang tua yang menitipkan anak-anak mereka di fasilitas serupa.

Banyak pihak berharap agar proses hukum dapat berjalan secara transparan untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik dugaan kekerasan tersebut.

Dalam perkembangan yang sama, penyelidikan aparat kepolisian masih terus berlangsung untuk mendalami dugaan adanya tindakan penganiayaan terhadap anak-anak yang dititipkan di lokasi tersebut.

Pihak berwenang juga disebut tengah mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi, termasuk para orang tua korban dan petugas terkait.

Sementara itu, masyarakat menantikan kejelasan hasil investigasi agar kasus yang mencoreng dunia pengasuhan anak ini dapat segera terungkap secara terang benderang.

Kasus di Little Aresha ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap lembaga penitipan anak, agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News