Menit.co.id – Emiten perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), berhasil menorehkan pencapaian gemilang sepanjang tahun buku 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang sangat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data resmi yang dipublikasikan perseroan, laba bersih Astra Agro Lestari melonjak tajam sebesar 28,5 persen secara year on year (yoy) menembus angka Rp 1,47 triliun. Pencapaian ini menunjukkan ketangguhan perusahaan dalam menghadapi berbagai dinamika pasar global maupun domestik.
Produksi dan Penjualan Meroket
Direktur Perseroan, Tingning Sukowignjo, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi menjadi motor utama penggerak kinerja positif tersebut. Data menunjukkan produksi Crude Palm Oil (CPO) perusahaan tumbuh 6 persen secara tahunan mencapai kisaran 1,24 juta ton, sementara produksi kernel atau inti sawit tercatat naik 8 persen menjadi 252 ribu ton.
“Perseroan membukukan kenaikan produksi CPO sebesar 6 persen year on year menjadi 1,24 ton dan produksi kernel 8% year-on-year menjadi 252 ribu ton pada tahun 2025,” ungkap Tingning dalam agenda public expose yang digelar di Menara Astra, Jakarta.
Peningkatan produksi tersebut berdampak langsung pada volume penjualan yang juga mencatat pertumbuhan impresif. Total penjualan CPO beserta produk turunannya melonjak 13 persen yoy menjadi sekitar 1,8 juta ton sepanjang 2025.
“Hal tersebut ikut menopang volume penjualan CPO dan turunannya sebesar 13 persen yoy menjadi 1,8 juta ton pada tahun 2025,” tambahnya.
Dampak positif dari meningkatnya volume produksi dan penjualan tersebut tercermin pada sisi pendapatan perseroan. Astra Agro Lestari berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 28,7 triliun pada 2025 atau mengalami kenaikan sebesar 31 persen jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya.
Dinamika Harga CPO Global
Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, menekankan bahwa capaian kinerja perseroan tidak lepas dari kondisi dinamis industri kelapa sawit global, khususnya terkait pergerakan harga CPO internasional.
“Pergerakan harga CPO, kita bisa melihat bahwa Perseroan menghadapi berbagai tantangan struktural dan dinamika ekonomi yang mempengaruhi industri kelapa sawit,” jelas Djap.
Ia memaparkan sejumlah faktor makroekonomi global turut memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi industri perkelapa sawitan, mulai dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing, volatilitas harga energi global, hingga situasi geopolitik internasional yang terus berkembang.
Menariknya, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan eksternal tersebut, harga CPO di pasar global justru mencatatkan tren kenaikan yang cukup substansial sepanjang 2025. Harga CPO Rotterdam sebagai acuan harga internasional tercatat naik dari posisi USD 1.084 per ton pada tahun 2024 menjadi USD 1.222 per ton pada 2025.
Djap menjelaskan bahwa permintaan global yang tetap menunjukkan kekuatan, termasuk dukungan dari kebijakan biodiesel mandatori di Indonesia, turut berperan penting dalam menopang pergerakan harga tersebut.
“Faktor suplai dan demand global menjadikan katalis utama yang mendorong harga dan produksi minyak kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap dia.
“Harga beranjak naik seiring kuatnya permintaan global, termasuk dorongan kebijakan mandatori biodiesel di Indonesia yang turut mendorong menopang harga domestik,” sambung Djap.
Infrastruktur Perkebunan yang Luas
Saat ini, perseroan mengelola total lahan perkebunan kelapa sawit dengan luasan mencapai 280.325 hektare yang tersebar merata di tiga pulau besar Indonesia, yakni Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Komposisi lahan tersebut terdiri dari kebun inti seluas 208.063 hektare yang merepresentasikan sekitar 74 persen dari total lahan, sedangkan sisanya sebanyak 26 persen merupakan kebun plasma seluas 72.262 hektare.
Untuk mendukung operasional pengolahan, perseroan didukung oleh 32 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas pengolahan total mencapai 1.655 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Selain itu, terdapat dua pabrik penyulingan dengan kapasitas olah sebesar 3.000 ton CPO per hari.
Percepatan Program Replanting
Dalam rangka menjaga dan meningkatkan produktivitas perkebunan, manajemen melakukan percepatan signifikan terhadap program peremajaan atau replanting tanaman sawit. Dalam dua tahun terakhir, luas area replanting berhasil ditingkatkan dari rata-rata 4.000 hektare per tahun menjadi 5.000 hektare.
Melihat hasil positif dari percepatan tersebut, untuk tahun 2026 perseroan menargetkan minimal melakukan replanting seluas 6.000 hektare dengan ambisi lebih tinggi untuk mencapai target 8.000 hektare.
“Dan untuk rencana replanting tahun ini, kita juga akan melakukan percepatan replanting dengan minimum kita akan melakukan 6.000 hektare tapi dengan tetap berambisi untuk mencapai luas replanting sebesar 8.000 pada akhir 2026,” papar Djap.
Rencana Capex dan Pembagian Dividen
Sejalan dengan strategi ekspansi dan peningkatan efisiensi operasional, perseroan telah menyiapkan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) yang lebih besar. Untuk tahun 2026, capex dianggarkan sebesar Rp 1,4 triliun yang menandakan kenaikan sebesar 79 persen dibandingkan realisasi capex tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 782 miliar.
Di sisi lain, perseroan juga berkomitmen untuk membagikan dividen kepada pemegang saham dengan total Rp 458 per saham atau setara dengan nilai Rp 881,5 miliar yang bersumber dari laba bersih tahun buku 2025.
Secara rinci, pembagian dividen tersebut telah dimulai dengan pembayaran dividen interim sebesar Rp 123 per saham yang telah direalisasikan pada Oktober 2025. Sementara itu, sisa pembagian dividen sebesar Rp 335 per saham dijadwalkan akan dibagikan kepada pemegang saham pada tanggal 13 Mei 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











