Menit.co.id – YouTuber Atta Halilintar mulai menunjukkan konsistensi dalam membangun fondasi nilai keagamaan bagi kedua putrinya, Ameena Hanna Nur Atta dan Azzura Humaira Nur Atta.
Ia menekankan bahwa peran sebagai ayah tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan material, tetapi juga memastikan anak-anaknya tumbuh dengan pemahaman agama yang kuat sejak usia dini.
Menurutnya, pembentukan karakter spiritual menjadi bagian penting dalam perjalanan tumbuh kembang anak yang tidak boleh diabaikan.
Dalam keterangannya di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, Atta Halilintar menjelaskan bahwa ia secara aktif mengenalkan berbagai amalan sederhana seperti zikir, selawat, serta pengenalan nama-nama nabi kepada anak-anaknya.
Ia bahkan memberikan metode pembelajaran berbasis apresiasi, di mana anak-anak akan mendapatkan “poin” ketika berhasil menghafal atau memahami materi yang diajarkan. Cara ini disebutnya sebagai upaya untuk menanamkan kecintaan terhadap nilai-nilai agama tanpa tekanan.
Menurut Atta Halilintar, pendekatan tersebut dilakukan agar proses belajar agama tidak terasa kaku. Ia menilai anak-anak lebih mudah menerima pembelajaran ketika disampaikan dengan cara yang menyenangkan.
Dari pandangannya, kebiasaan kecil seperti mengingat zikir dan nama-nama nabi dapat menjadi bekal penting yang akan membentuk karakter dan ketenangan batin anak di masa depan.
Ia juga mengungkapkan bahwa proses pengenalan nilai agama sebenarnya sudah dimulai sejak anak pertamanya, Ameena, masih berusia sangat kecil. Bahkan, Ameena sudah diperkenalkan dengan zikir sejak usia sekitar dua hingga tiga tahun.
Kebiasaan ini kemudian dilanjutkan kepada anak keduanya, Azzura Humaira Nur Atta, yang kini juga mulai mendapatkan pengajaran serupa meski tidak seluruh prosesnya terdokumentasi dalam bentuk video atau publikasi.
Dalam penjelasannya, Atta Halilintar menyebut bahwa tidak semua momen pembelajaran anak-anaknya selalu dibagikan ke publik. Ada banyak proses yang terjadi secara alami di rumah tanpa dokumentasi visual.
Hal ini, menurutnya, adalah bagian dari kehidupan keluarga yang tetap ingin ia jaga keseimbangannya antara ruang pribadi dan aktivitas publik sebagai figur publik.
Salah satu alasan utama ia memilih zikir sebagai bagian dari pembelajaran harian adalah keyakinannya bahwa aktivitas tersebut mampu memberikan ketenangan batin.
Ia percaya bahwa dengan membiasakan anak-anak mengingat Tuhan sejak dini, mereka akan tumbuh dengan rasa aman secara emosional dan memiliki benteng moral yang lebih kuat ketika menghadapi lingkungan luar yang semakin kompleks.
Selain itu, Atta Halilintar juga menerapkan metode pembelajaran yang dibuat menyerupai permainan. Ia menciptakan sistem target sederhana yang mendorong anak-anak untuk saling berlomba dalam hal menghafal atau memahami materi keagamaan.
Dengan pendekatan ini, ia berharap proses belajar tidak terasa seperti kewajiban berat, melainkan aktivitas yang menyenangkan dan memotivasi.
Metode “tantangan” tersebut menurutnya efektif karena anak-anak cenderung merespons positif kompetisi kecil yang sehat.
Dalam suasana yang penuh semangat, mereka lebih cepat menyerap informasi tanpa merasa tertekan. Ia menilai bahwa strategi ini dapat menjadi jembatan antara pendidikan agama dan dunia anak yang identik dengan bermain.
Dalam berbagai kesempatan, Atta Halilintar juga menegaskan bahwa pendidikan agama sejak dini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anaknya.
Ia percaya bahwa nilai-nilai spiritual akan menjadi fondasi penting dalam membentuk kepribadian, kedisiplinan, serta rasa empati terhadap sesama.
Sebagai penutup, Atta Halilintar menegaskan bahwa perannya sebagai ayah adalah memastikan anak-anaknya tidak hanya tumbuh sukses secara duniawi, tetapi juga memiliki pegangan moral dan spiritual yang kuat.
Dengan pendekatan yang lembut, konsisten, dan menyenangkan, ia berharap Ameena dan Azzura dapat tumbuh menjadi pribadi yang seimbang antara kecerdasan, karakter, dan keimanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











