Homeless Media Disorot, Akademisi Nilai Ada Ancaman terhadap Independensi Jurnalisme

Avatar photo
Homeless Media
Add as preferred source on Google

Menit.co.id – Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Masduki, menyoroti keputusan pemerintah menggandeng homeless media sebagai mitra komunikasi publik.

Langkah yang dilakukan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Muhammad Qodari, dinilai memiliki dua sisi yang saling bertentangan, yakni mendukung keberlanjutan media digital sekaligus membuka ruang ancaman terhadap independensi jurnalisme.

Menurut Masduki, keterlibatan homeless media dapat dipahami sebagai bentuk pengakuan pemerintah terhadap besarnya pengaruh media digital dalam membentuk opini publik masyarakat.

Namun di sisi lain, ia mengingatkan bahwa bantuan pendanaan dari pemerintah tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya netral.

“Jadi karena tidak ada makan siang gratis istilahnya, pemerintah memberikan dana itu biasanya kepada media tujuannya adalah propaganda ya untuk menyampaikan kegiatan-kegiatan pemerintah secara positif,” kata Masduki dikutip dari Suara.com, Kamis (7/5/2026).

Ia menilai ada indikasi bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar bentuk dukungan terhadap perkembangan media baru, melainkan juga memiliki potensi intervensi terhadap arah pemberitaan.

Pemerintah dianggap berkeinginan agar berbagai programnya tersampaikan secara top-down sekaligus mengurangi ruang bagi pemberitaan yang kritis terhadap kekuasaan.

“Apa yang dilakukan Qodari ini punya potensi, punya ruang untuk kemungkinan terjadinya kooptasi terhadap homeless media yang beberapa waktu ini berita-beritanya menyita perhatian,” ujarnya.

Masduki juga melihat pola tersebut mengarah pada gejala otoritarianisme digital. Menurutnya, kecenderungan pemerintah menempatkan diri sebagai sumber kebenaran tunggal dapat memunculkan represi halus melalui pengendalian informasi, bukan melalui ruang komunikasi yang deliberatif dan egaliter.

“Ini kontrol informasi sebetulnya yang itu terasa sebagai sebuah represi secara halus yang nanti pelan-pelan berdampak buruk pada kredibilitas homeless media,” katanya.

Ia kemudian menyinggung pengalaman sejumlah pendengung atau buzzer yang sebelumnya dikenal memiliki keberpihakan terhadap masyarakat, namun berubah arah setelah mendapatkan dukungan dari pemerintah.

“Seperti yang sudah dilakukan pemerintah terhadap misalnya para pendengung ya yang tadinya itu punya suara-suara positif, berpihak pada korban, pada masyarakat tapi setelah didanai pemerintah itu justru berbalik arah,” tambahnya.

Selain persoalan independensi, Masduki turut menyoroti manajemen redaksi media digital yang mayoritas masih bersifat personal dan belum memiliki standar editorial yang kuat seperti media arus utama. Kondisi itu dinilai dapat menjadi celah bagi pemerintah untuk menghindari mekanisme pengawasan yang lebih ketat.

“Jangan sampai ini homeless artinya personalized media, jangan sampai. Dia harus tetap memiliki mekanisme publik mengontrol, mengoreksi, jangan sampai dia terjebak pada media-media pribadi yang kemudian mendestruksi apa yang disebut media jurnalisme itu sendiri,” tegasnya.

Masduki juga mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap platform digital global tetap menjadi persoalan penting yang harus diperhatikan. Menurut dia, aliran dana pemerintah kepada media digital pada akhirnya juga dapat memperkuat dominasi perusahaan teknologi internasional dibanding mendukung media arus utama lokal maupun nasional yang telah memiliki sistem editorial mapan.

“Nah ini juga harusnya menjadi kewaspadaan baik sisi pemerintah sebagai penyedia dana maupun teman-teman homeless media,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menyebut sejumlah media digital yang tergabung dalam New Media Forum. Beberapa di antaranya adalah Folkative, Indozone, Dagelan, Indomusicgram, Infipop, Narasi, Muslimvlog, USS Feed, Bapak-Bapak ID, Menjadi Manusia, GNFI, Creativox, Kok Bisa, Taubaters, hingga Pandemic Talks.

Selain itu terdapat pula Kawan Hawa, Folix, Ngomongin Uang, Big Alpha, Good States, Hai Dulu, Proud Project, Vebis, Unframe, Kumpul Leaders, CXO Media, Volix Media, How To Do Nothing, Everless Media, Geometry Media, Folks Diary, Dream, Melodi Alam, NKTSHI, Modestalk, Lead Media, Nalar TV, Mahasiswa dan Jakarta, serta North West.

“Kehadiran teman-teman new media mencerminkan upaya Bakom untuk menjangkau publik seluas-luasnya, tidak hanya melalui media konvensional, tapi juga melalui kanal-kanal digital yang pada hari ini telah menjadi realitas media atau realitas komunikasi kita, Mas Ipul, sebagai bentuk dari perkembangan teknologi dan sosial kemasyarakatan,” kata Qodari saat berbicara kepada Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News